Rasa apa ini sebenarnya? Ingin sekali kumengutukinya. Ingin...
Aku lelah...lelah...
Kapan aku bisa meneriakkan semua gemuruh hatiku dalam bisik?
Mengapa harus saling menyakiti seperti ini?
Aku sungguh mengenalmu hingga lapisan kulit terdalammu...
Hingga hanya dengan tulisan dan suaramu saja aku bisa merasakan kutukanmu terhadap hatimu sendiri dan KEADAAN.
Sangat pekat kurasa betapa masih sangat membaranya rasa itu yg selalu kau sembunyikan dalam angkuh satu dua katamu. Kenapa? Kenapa harus menyiksa diri?
Rutinitas yg biasa memancing tawa tanpa harus bersandiwara musnah sudah, berganti rutinitas yg sungguh menyayat asa. Aku yg hanya sedikit mengurangi dan menahan isi hati terkutuk ini untuk tidak menyentuhmu, meraihmu, dan mendekapmu kembali menjadi hanya untukku saja sudah sangat tersiksa. Lalu? Bagaimana denganmu yg harus sekeras ini menjauhi, mendusta, menekan dalam2 air mata yg memburu tumpah ruah ke bukit pipi yg biasa memerah tiap manis sikapmu bertemu pujiku...
Kapan bisa aku bisikkan lelahku dalam beriak suara yg bercampur isak di telingamu melalui cela telepon seperti malam yg selalu kita ramu untuk bersama? Kapan?
Kapan aku harus keluar dari kepuraan bahwa aku baik- baik saja? Atau kau sama sekali tak ingin mendengarnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar