Tuhan...
Semudah Engkau anugerahkan rasa ini kepadanya, semudah itulah aku mencintainya, menemaninya, dan mengiyakannya.
Sesulit orang menerima kami, sesulit itulah dia menerimaku, dan juga melepaskanku.
Tuhan...
Apa ini yg Engkau tuliskan untuk kami? Ah, mungkin untukku saja tepatnya. Untukku yg terlalu munafik menerima kenyataan bahwa aku hanyalah angin, sama seperti yg selama ini menggema, mengusik telinga dan hatinya.
Tuhan...
Seperti anginpun aku akan menghempas, menghilang, dari pandang maupun angan, jika memang itu yg Kau inginkan.
Aku kembalikan dia, milikmu yg begitu aku agungkan, yg sampai detik inipun begitu aku rindukan, dia yg sempurna tiada cela, dia yg sungguh dengan nyawapun tak kuasa kudapatkan.
Tuhan...
Jika cinta kami adalah dosa, limpahkanlah dosa itu padaku. Jika disini saja aku sudah terbiasa untuk tak diterima bahkan oleh keluarga dan dirinya, tak mengapa jika nantinya surga memperlakukan aturan yg sama untukku.
Ya Tuhan...
Beri aku pengertian agar aku paham jika aku yg salah berada di dunia ini, sehingga aku tak bertanya lagi kenapa harus aku yg berbeda, kenapa harus aku yg menerima bahwa mereka semua berbeda denganku, kenapa harus aku yg memaklumi bahwa aku yg harus tersisih.
Tuhan...
Aku bukan yg Maha segalanya sepertiMu.
To many mind will kill you, so does the empty mind. Don't let your heart dry! Fill it! If there is no more space in your heart, let your fingers do it on empty sketching-paper.
Minggu, 18 Desember 2011
Sabtu, 03 Desember 2011
NOL
Seharian kuputar otak, kumainkan seluruh organ tubuh untuk menyangkal rasa yg sungguh ingin kucaci, dan inilah yg kudapat, kelelahan.
Entah apa sebab kelelahan ini.
Bahkan nyanyian hujan tak juga mampu menghunus rasa nyeri yg entah datangnya darimana.
Tadinya kupikir jika mentari cepat menggelincir, aku dapat menemukan kembali ketentraman yg tengah lama kurindukan.
***
Apakah kewarasan sudah benar- benar enggan menyertaiku?
Entah apa sebab kelelahan ini.
Bahkan nyanyian hujan tak juga mampu menghunus rasa nyeri yg entah datangnya darimana.
Tadinya kupikir jika mentari cepat menggelincir, aku dapat menemukan kembali ketentraman yg tengah lama kurindukan.
***
Apakah kewarasan sudah benar- benar enggan menyertaiku?
Langganan:
Postingan (Atom)