Dear the one who has stayed in my life.
Dengan mendengar suaramu semuanya membaik, sayang
Ya, hanya dengan mendengar suaramu
Parau hatiku seakan terbelai kata- kata yg terbalut cinta
Menghilangkan sesak sekaligus menentramkan
Sungguh.. tiap detik nadirku.. kurindukan bersamamu
Lantunan resah ini cuma ingini kamu sebagai ramu
Cinta.. betapa bagiku kau lah tempat semua arti
Dan betapa bersamamu cita seakan tak berhenti
Simfoni hatiku.. hanya kamu yg mampu resapi, sayang
Hanya kamu yg mampu singgahi
Ingini kamu tetap disisi basahi hari
Seperti hujan yg sangat kita gemari
Seperti malam yg biasa kita nanti
Seperti ucapan selamat tidur yg tak pernah bosan mengawali mimpi
Mentari memang segera hadir tuk rajai hari
Tapi tak berarti aku telah berhenti menanti musim berganti
Karna disanalah berbagai lukisan hati terpahat hangat di setiap mili
Jelita.. tetaplah disini merangkai warna
Menoreh indah rasa bersama
To many mind will kill you, so does the empty mind. Don't let your heart dry! Fill it! If there is no more space in your heart, let your fingers do it on empty sketching-paper.
Senin, 31 Januari 2011
Kamis, 27 Januari 2011
Fourth Letter
Dear my fairy...
Langit malam ini indah sekali, sayang.
Bulan membentang sinarnya penuh kemegahan, tak biarkan hitam awan menyentuh apalagi menyelimuti semangatnya.
Angin berlomba memaniskan hembusnya, membelai jiwa yg bermahkotakan cinta.
Bintang saja heran, kemana hujan yg biasanya bertandang merampas keeksisannya dan sang dewi malam?
...dan kenapa dengan angin? kemana sifat arogan yg biasa menjadi julukannya itu?
lebih heran lagi... kemana gemuruh yg biasa ditanyakan oleh jiwa bernuansa jingga ini?
bulan yg hanya tersenyum mendengar semua tanya itu lalu mengerling ke sepoi angin yg tak mau pergi dari tuannya, dan tetap meniupkan apa yg disebut kenyamanan.
angin tak mau kalah. dibalasnya kerlingan bulan dengan menghempas manja membentuk dua hati melambangkan rasa yg orang kenal dapat merubah segala.
lalu jiwa itu berjalan ke arah merah hati yg menyerukan nama seseorang yg sangat dia kasihi... orang itu sedang berada di alam tidurnya sekarang, jauh di dalam sana mungkin dia sedang menari di bawah rinai yg sangat dia sukai itu. tapi kenapa dia seperti tak pernah meninggalkan jiwa tersebut? padahal siluman mimpi pasti sedang ketat2nya mengawal agar sandranya tidak melarikan diri dari alam warna- warni.
tapi kenapa? kenapa kemana jiwa itu berjalan, selalu dia menggetarkan? kenapa kemana jiwa itu berlari, selalu dia menyertai?
malam ini alam sungguh mengerti, sayang...
senyenyak tidurmu, sedamai itulah hatiku...
fairy, terimakasih untuk senyum dan candamu yg segarkan jiwa...
esok hari semoga mentari menghampiri tuk hangatkan hati...
your stupid bunny.
Langit malam ini indah sekali, sayang.
Bulan membentang sinarnya penuh kemegahan, tak biarkan hitam awan menyentuh apalagi menyelimuti semangatnya.
Angin berlomba memaniskan hembusnya, membelai jiwa yg bermahkotakan cinta.
Bintang saja heran, kemana hujan yg biasanya bertandang merampas keeksisannya dan sang dewi malam?
...dan kenapa dengan angin? kemana sifat arogan yg biasa menjadi julukannya itu?
lebih heran lagi... kemana gemuruh yg biasa ditanyakan oleh jiwa bernuansa jingga ini?
bulan yg hanya tersenyum mendengar semua tanya itu lalu mengerling ke sepoi angin yg tak mau pergi dari tuannya, dan tetap meniupkan apa yg disebut kenyamanan.
angin tak mau kalah. dibalasnya kerlingan bulan dengan menghempas manja membentuk dua hati melambangkan rasa yg orang kenal dapat merubah segala.
lalu jiwa itu berjalan ke arah merah hati yg menyerukan nama seseorang yg sangat dia kasihi... orang itu sedang berada di alam tidurnya sekarang, jauh di dalam sana mungkin dia sedang menari di bawah rinai yg sangat dia sukai itu. tapi kenapa dia seperti tak pernah meninggalkan jiwa tersebut? padahal siluman mimpi pasti sedang ketat2nya mengawal agar sandranya tidak melarikan diri dari alam warna- warni.
tapi kenapa? kenapa kemana jiwa itu berjalan, selalu dia menggetarkan? kenapa kemana jiwa itu berlari, selalu dia menyertai?
malam ini alam sungguh mengerti, sayang...
senyenyak tidurmu, sedamai itulah hatiku...
fairy, terimakasih untuk senyum dan candamu yg segarkan jiwa...
esok hari semoga mentari menghampiri tuk hangatkan hati...
your stupid bunny.
Senin, 24 Januari 2011
Kisah Panjang yang Pendek
Ketika kita mendapatkan apa yg kita cari selama ini, yg bisa menerima semua yg ada dalam diri kita tanpa terkecuali, namun keadaan tidak menerimanya.
***
Ini kisah klise yg banyak orang alami, yg dulu pernah kusepelekan, yg aku pikir tak pernah akan mendatangiku, tak pernah mengganggu pikirku, dan mengusik jiwaku.
Tak ada yg lebih indah dari cinta yg terbalas, bukan? Perasaan yg mampu mengaduk pikiran dan hati saat kita menambatkan kasih kepada seseorang yg kita harap juga memiliki hasrat demikian kepada kita. Ketika cinta terbalas, dan komitmen untuk memiliki ikatanpun terucap, tak ada yg bisa mengalahkan rasa bahagia saat berbagi waktu bersamanya, merangkai mimpi berdua, dan membayangkan sesuatu yg pasti diharapkan oleh orang yg saling jatuh cinta, yaitu PERNIKAHAN. Membayangkan betapa mungil rumah yg akan kita bangun bersama nantinya, betapa ramai keluarga kita lengkap dengan si buah hati.. aaahhhh... sungguh indah.
Untuk sebagian orang mungkin cerita cinta mereka bisa berjalan mulus seperti cerita di atas, tapi bagiku dan kamu, mimpi kita untuk bermahligai seperti di atas harus kandas di tengah jalan. Bukan karena cinta tak terbalas, tapi karna memang sudah seperti inilah takdir untuk cinta- cinta seperti kita digariskan. Bukan pernikahan yang akan kita jelang, tapi PERPISAHAN. Huuuuuuhhhh... miris rasanya hati ini, sayang.
Bagi yg melihat atau mendengar mungkin hanya akan berkata ‘halah cerita basi!’. Dulu juga begitu pikirku tiap mendengar cerita cinta yg berakhir di tengah jalan entah itu karna faktor keluarga, agama, ras, kewarganegaraan, umur, perjodohan, dan sebagainya. Dan mungkin ini karma bagiku, karna aku sekarang sekarat merasakan kisah yg membabi buta ini, dimana aku dan kamu sama- sama keranjingan oleh rasa yg dinamai CINTA.
Jatuh cinta memang susah menghampiriku. Apalagi aku orang yg menutup hati, keras, angkuh, dan gengsian. Jangankan peduli dengan orang yg mendekatiku, melihatpun tidak. Mengenalmu, ada yg lain di hatiku, seakan membuka jalan untuk kamu singgahi. Begitu mudahnya kamu menarik perhatianku, dan dengan mudah pula kuikuti kata hatiku untuk terus mencari tau semua tentangmu. Sampai saat aku mulai merindukan kehadiranmu dalam hari- hariku, aku mulai kehilangan jika tak ada kabar darimu, aku mulai kelabakan mengatur konsentrasi jika tak ada kamu yg menyapa hariku.
Aku tak tahan. Aku mulai norak. Aku putar otak, memikirkan beribu cara, setidaknya untuk sekedar tau tentang hari- harimu, hingga akhirnya kamu bungkam aku dengan pertanyaan yg membuat jantungku berhenti seketika. Kamu menanyakan perasaanku, sesaat aku membisu, aku serba salah. Ingin sekali aku bilang aku sayang kamu, tapi aku takut itu justru membuatmu jauh dariku karna ternyata tak ada perasaan yg sama dalam hatimu. Aku bingung. Lantas terpikir olehku, bagaimana kalau aku bilang perasaanku biasa aja ke kamu? Dan muncul pertanyaan tambahan seketika itu juga, bagaimana kalau ternyata kamu menyimpan rasa ke aku? Serba salah deh pokoknya. Akhirnya, aku putuskan untuk jujur. Mengagetkan memang. Aku tak menyangka bahwa kamu ternyata mengharapkan jawaban yg tadinya aku ragukan untuk diucapkan. Akhirnya, aku dan kamu menautkan hati, menyatakan komitmen berpacaran, dimana hatiku telah kututup selain untukmu, begitu juga dengan punyamu.
Hari- hariku terasa berbeda. Aku merasa segar ketika membuka mata di pagi hari, senang sekali pagi itu juga kita saling sapa dengan kata- kata manis. Siang yang panas tak pernah terasa menyengat lagi, malam yg dingin menjadi hangat olehmu, begitu seterusnya kulalui hari hingga kamu menjadi candu bagiku.
Semangat darimu selalu membangkitkanku, meluluhkan rasa malas dan pesimis atau kalah sebelum berjuang. Lelahkupun tak berarti lagi jika lembut suaramu mengisi hati. Kamu, yg selalu mengerti aku, yg tak pernah lelah mengajariku untuk terus maju, adalah satu- satunya yg kuingini dampingiku sampai tutup usiaku. Perasaan nyaman ini hanya kamulah yg mampu berikan.
Hari silih berganti, ketakutan mulai merajai. Sayang ini tumbuh begitu cepat. Kuntum cinta yg kuncup, sekarang telah bermekaran, semi oleh sejuknya hembusan kasih yg kamu berikan. Semakin tak kuasa ku jauh darimu, semakin tak bisa ku hadapi hari tanpa belaimu.
Namun... cinta inilah yg akhirnya menampar kita dari mimpi, sayang. Tertatih- tatih kita menatap kenyataan bahwa sebenarnya tak dapat aku sandingkan cintaku dengan punyamu selamanya karna cinta bukan berarti harus memiliki hanyalah omong kosong atau balada mereka yg tengah putus asa karena lelah mengejar cinta yg tak terbalas. Egoku yg tadinya hanya ingini kamu untukku seorang akhirnya pudar. Apalah artinya aku mendapatkan cintamu tapi tak mampu ku penuhi mimpimu untuk merajut bahagia bersama dengan sebuah kata KELUARGA? Cinta memang buta, sayang, tapi itu hanya cinta yg egois saja, yg tak pernah mengerti kebahagiaan pasangannya. Ketika datang kacamata yg membuka tabir kebutaan yg tadinya kekal menyelimuti nurani kita, telah muncul kesepakatan untuk mengakhiri segalanya dengan kepercayaan bahwa akan datang seseorang yg memang digariskan untukku yg mampu wujudkan mimpimu akanku, dan seseorang lagi muncul untuk wujudkan mimpiku akanmu. Kita percaya mimpi itu akan terwujud melalui tangan Tuhan yg dikirim pada kedua orang terpilih itu. Susah memang membayangkanmu bersamanya, apalagi membayangkan kalian mewujudkan mimpi yg kita bangun bersama. Sesak, cemburu, dan semua rasa tak enak tiba- tiba berkecamuk menjadi satu. Tapi tak apalah. Aku menginginkanmu bahagia. Jika memang tak bisa kamu raih bahagia itu jika tetap bersamaku, tak akan mengapa jika dia yg wujudkan bahagiamu, toh memang bahagialah harapanku untuk dirimu. Meski begitu, sampai detik ini aku tak pernah berniat mengurangi sedikitpun rasa sayangku. Tetap, kamulah satu- satunya yg ada di hati, yg slalu aku kasihi.
Waktu yg tersisa kini adalah waktuku mengumpulkan segala kekuatan dan kerelaan untuk melepasmu, sayang. Sambutlah udara segar yg bebaskanmu dari sesak yg biasa menghampirimu saat bersamaku. Aku tak akan mengingat hakku untuk cemburu lagi, untuk perhatianku yg kadang bersifat memaksa, dan untuk tuntutan tau akan semua cerita harimu. temukanlah kebahagian disana bersama orang- orang terkasih, sahabat, keluarga, dan cinta tentunya.
Bagaimana denganku? Aku tak pernah ingin mengecewakanmu. Jika alasan kita untuk saling melepas adalah untuk berbahagia dengan seseorang yg ditakdirkan untuk mewujudkan mimpi kita, aku berjanji akan penuhi itu. Pengorbanan perasaan yg pantas untuk diperjuangkan ini, tak hanya akan ku anggap janji semata, tapi akan ku penuhi. Tak mengapa jika untuk itu aku berpeluh luka, tak mengapa jika untuk melepasmu ku meratap setiap kusapa mentari pagi penanda hari telah berganti. Tuhan tak akan tinggal diam, sayang. Cepat atau lambat akan Dia kirim orang- orang terpilih itu untuk kita. Percayalah, Dia juga akan menghapus cinta kita, memenuhi dengan cerita baru yg tak kalah dahsyat dengan yg kita punya, sehingga tak kan sempat kita menoleh ke belakang karna yg di depan jauh lebih indah dan menjanjikan. Tak perlu bersusah payah ku coba hapus hadirku di hidupmu, tak perlu juga kupaksa kamu lupakanku, karna aku percaya Tuhan dan dia yg akan melakukannya. Jadi, biarlah aku mengarus menikmati rasaku dari waktu ke waktu. Biarlah ku hidup sebagai pencinta sampai saat pengakhiran kembara cintaku tiba.
***
Ini kisah klise yg banyak orang alami, yg dulu pernah kusepelekan, yg aku pikir tak pernah akan mendatangiku, tak pernah mengganggu pikirku, dan mengusik jiwaku.
Tak ada yg lebih indah dari cinta yg terbalas, bukan? Perasaan yg mampu mengaduk pikiran dan hati saat kita menambatkan kasih kepada seseorang yg kita harap juga memiliki hasrat demikian kepada kita. Ketika cinta terbalas, dan komitmen untuk memiliki ikatanpun terucap, tak ada yg bisa mengalahkan rasa bahagia saat berbagi waktu bersamanya, merangkai mimpi berdua, dan membayangkan sesuatu yg pasti diharapkan oleh orang yg saling jatuh cinta, yaitu PERNIKAHAN. Membayangkan betapa mungil rumah yg akan kita bangun bersama nantinya, betapa ramai keluarga kita lengkap dengan si buah hati.. aaahhhh... sungguh indah.
Untuk sebagian orang mungkin cerita cinta mereka bisa berjalan mulus seperti cerita di atas, tapi bagiku dan kamu, mimpi kita untuk bermahligai seperti di atas harus kandas di tengah jalan. Bukan karena cinta tak terbalas, tapi karna memang sudah seperti inilah takdir untuk cinta- cinta seperti kita digariskan. Bukan pernikahan yang akan kita jelang, tapi PERPISAHAN. Huuuuuuhhhh... miris rasanya hati ini, sayang.
Bagi yg melihat atau mendengar mungkin hanya akan berkata ‘halah cerita basi!’. Dulu juga begitu pikirku tiap mendengar cerita cinta yg berakhir di tengah jalan entah itu karna faktor keluarga, agama, ras, kewarganegaraan, umur, perjodohan, dan sebagainya. Dan mungkin ini karma bagiku, karna aku sekarang sekarat merasakan kisah yg membabi buta ini, dimana aku dan kamu sama- sama keranjingan oleh rasa yg dinamai CINTA.
Jatuh cinta memang susah menghampiriku. Apalagi aku orang yg menutup hati, keras, angkuh, dan gengsian. Jangankan peduli dengan orang yg mendekatiku, melihatpun tidak. Mengenalmu, ada yg lain di hatiku, seakan membuka jalan untuk kamu singgahi. Begitu mudahnya kamu menarik perhatianku, dan dengan mudah pula kuikuti kata hatiku untuk terus mencari tau semua tentangmu. Sampai saat aku mulai merindukan kehadiranmu dalam hari- hariku, aku mulai kehilangan jika tak ada kabar darimu, aku mulai kelabakan mengatur konsentrasi jika tak ada kamu yg menyapa hariku.
Aku tak tahan. Aku mulai norak. Aku putar otak, memikirkan beribu cara, setidaknya untuk sekedar tau tentang hari- harimu, hingga akhirnya kamu bungkam aku dengan pertanyaan yg membuat jantungku berhenti seketika. Kamu menanyakan perasaanku, sesaat aku membisu, aku serba salah. Ingin sekali aku bilang aku sayang kamu, tapi aku takut itu justru membuatmu jauh dariku karna ternyata tak ada perasaan yg sama dalam hatimu. Aku bingung. Lantas terpikir olehku, bagaimana kalau aku bilang perasaanku biasa aja ke kamu? Dan muncul pertanyaan tambahan seketika itu juga, bagaimana kalau ternyata kamu menyimpan rasa ke aku? Serba salah deh pokoknya. Akhirnya, aku putuskan untuk jujur. Mengagetkan memang. Aku tak menyangka bahwa kamu ternyata mengharapkan jawaban yg tadinya aku ragukan untuk diucapkan. Akhirnya, aku dan kamu menautkan hati, menyatakan komitmen berpacaran, dimana hatiku telah kututup selain untukmu, begitu juga dengan punyamu.
Hari- hariku terasa berbeda. Aku merasa segar ketika membuka mata di pagi hari, senang sekali pagi itu juga kita saling sapa dengan kata- kata manis. Siang yang panas tak pernah terasa menyengat lagi, malam yg dingin menjadi hangat olehmu, begitu seterusnya kulalui hari hingga kamu menjadi candu bagiku.
Semangat darimu selalu membangkitkanku, meluluhkan rasa malas dan pesimis atau kalah sebelum berjuang. Lelahkupun tak berarti lagi jika lembut suaramu mengisi hati. Kamu, yg selalu mengerti aku, yg tak pernah lelah mengajariku untuk terus maju, adalah satu- satunya yg kuingini dampingiku sampai tutup usiaku. Perasaan nyaman ini hanya kamulah yg mampu berikan.
Hari silih berganti, ketakutan mulai merajai. Sayang ini tumbuh begitu cepat. Kuntum cinta yg kuncup, sekarang telah bermekaran, semi oleh sejuknya hembusan kasih yg kamu berikan. Semakin tak kuasa ku jauh darimu, semakin tak bisa ku hadapi hari tanpa belaimu.
Namun... cinta inilah yg akhirnya menampar kita dari mimpi, sayang. Tertatih- tatih kita menatap kenyataan bahwa sebenarnya tak dapat aku sandingkan cintaku dengan punyamu selamanya karna cinta bukan berarti harus memiliki hanyalah omong kosong atau balada mereka yg tengah putus asa karena lelah mengejar cinta yg tak terbalas. Egoku yg tadinya hanya ingini kamu untukku seorang akhirnya pudar. Apalah artinya aku mendapatkan cintamu tapi tak mampu ku penuhi mimpimu untuk merajut bahagia bersama dengan sebuah kata KELUARGA? Cinta memang buta, sayang, tapi itu hanya cinta yg egois saja, yg tak pernah mengerti kebahagiaan pasangannya. Ketika datang kacamata yg membuka tabir kebutaan yg tadinya kekal menyelimuti nurani kita, telah muncul kesepakatan untuk mengakhiri segalanya dengan kepercayaan bahwa akan datang seseorang yg memang digariskan untukku yg mampu wujudkan mimpimu akanku, dan seseorang lagi muncul untuk wujudkan mimpiku akanmu. Kita percaya mimpi itu akan terwujud melalui tangan Tuhan yg dikirim pada kedua orang terpilih itu. Susah memang membayangkanmu bersamanya, apalagi membayangkan kalian mewujudkan mimpi yg kita bangun bersama. Sesak, cemburu, dan semua rasa tak enak tiba- tiba berkecamuk menjadi satu. Tapi tak apalah. Aku menginginkanmu bahagia. Jika memang tak bisa kamu raih bahagia itu jika tetap bersamaku, tak akan mengapa jika dia yg wujudkan bahagiamu, toh memang bahagialah harapanku untuk dirimu. Meski begitu, sampai detik ini aku tak pernah berniat mengurangi sedikitpun rasa sayangku. Tetap, kamulah satu- satunya yg ada di hati, yg slalu aku kasihi.
Waktu yg tersisa kini adalah waktuku mengumpulkan segala kekuatan dan kerelaan untuk melepasmu, sayang. Sambutlah udara segar yg bebaskanmu dari sesak yg biasa menghampirimu saat bersamaku. Aku tak akan mengingat hakku untuk cemburu lagi, untuk perhatianku yg kadang bersifat memaksa, dan untuk tuntutan tau akan semua cerita harimu. temukanlah kebahagian disana bersama orang- orang terkasih, sahabat, keluarga, dan cinta tentunya.
Bagaimana denganku? Aku tak pernah ingin mengecewakanmu. Jika alasan kita untuk saling melepas adalah untuk berbahagia dengan seseorang yg ditakdirkan untuk mewujudkan mimpi kita, aku berjanji akan penuhi itu. Pengorbanan perasaan yg pantas untuk diperjuangkan ini, tak hanya akan ku anggap janji semata, tapi akan ku penuhi. Tak mengapa jika untuk itu aku berpeluh luka, tak mengapa jika untuk melepasmu ku meratap setiap kusapa mentari pagi penanda hari telah berganti. Tuhan tak akan tinggal diam, sayang. Cepat atau lambat akan Dia kirim orang- orang terpilih itu untuk kita. Percayalah, Dia juga akan menghapus cinta kita, memenuhi dengan cerita baru yg tak kalah dahsyat dengan yg kita punya, sehingga tak kan sempat kita menoleh ke belakang karna yg di depan jauh lebih indah dan menjanjikan. Tak perlu bersusah payah ku coba hapus hadirku di hidupmu, tak perlu juga kupaksa kamu lupakanku, karna aku percaya Tuhan dan dia yg akan melakukannya. Jadi, biarlah aku mengarus menikmati rasaku dari waktu ke waktu. Biarlah ku hidup sebagai pencinta sampai saat pengakhiran kembara cintaku tiba.
Minggu, 23 Januari 2011
Third Letter
Dear kasihku yg tak pernah lelah mengerti aku...
kita sama- sama tau rasanya disakiti dan menyakiti, sayang...
bagi yg tersakiti... pedih... sampe ke ulu hati sang taji menancap nyeri.
Bak mati denyut pembulu, sembilunya menyulut sekujur ulu.
kedap... sesak memenjara isak yg coba menyeruak
menampu anak hilir yg sekarat mencari hulu untuk mendarat...
bagaimana dengan yg menyakiti?
kecut... meski hasrat tersurat, percayalah masam tak kuasa teredam.
ada perih tak terkais terlukis tipis di pelipis.
ada senyum simpul tumpul berjelaga di atas ketegangan yg mendadak kusut
meramu racun sebagai penawar kebahagiaan yg sejatinya tidak sejati...
sayang... sekuat- kuatnya hasrat dan luka bagi yg menyakiti dan yg tersakiti,
buah deritanya tak pernah jauh berbeda.
...dan aku berikrar tak kan pernah menjadi subject penderitaan itu.
bukan soal tega- menegalah sebab kelumpuhan untuk menyuarakan hatiku...
saat kekanakan merajai emosi, terlintas bagaimana membalas...
saat kedewasaan merebut paksa singgasana kekanakan, terlintas bagaimana menyikapi...
saat cinta merenggut semuanya tanpa tersisa, terkutuk kekanakan dan kedewasaan karna di dalamnya masih bertahta kepicikan yg terbutakan kesakitan.
saat sayang hadir di tengah cinta yg sempat meradang, terbisik hati merangkul kembali, tetap disini, tersemat di sisi.
...dan... aku tak keberatan dikuasai cinta... tak keberatan mengembangkan sayang...
karna aku tau, ada sebongkah cinta agung tersimpan untukku di dalam kalbumu yg terselubung kidung.
kasihku... bagaimana kamu mencintaiku... aku sangat nikmati itu...
jangan pernah tanyakan bagaimana rasanya jadi aku...
...karna jawabku tak akan jauh dari yg kamu ucapkan saat kulontarkan pertanyaan yg sama kepadamu.
syukurku kumiliki kekasih sepertimu, sayang...
the one who keeps the love for you in every single day.
kita sama- sama tau rasanya disakiti dan menyakiti, sayang...
bagi yg tersakiti... pedih... sampe ke ulu hati sang taji menancap nyeri.
Bak mati denyut pembulu, sembilunya menyulut sekujur ulu.
kedap... sesak memenjara isak yg coba menyeruak
menampu anak hilir yg sekarat mencari hulu untuk mendarat...
bagaimana dengan yg menyakiti?
kecut... meski hasrat tersurat, percayalah masam tak kuasa teredam.
ada perih tak terkais terlukis tipis di pelipis.
ada senyum simpul tumpul berjelaga di atas ketegangan yg mendadak kusut
meramu racun sebagai penawar kebahagiaan yg sejatinya tidak sejati...
sayang... sekuat- kuatnya hasrat dan luka bagi yg menyakiti dan yg tersakiti,
buah deritanya tak pernah jauh berbeda.
...dan aku berikrar tak kan pernah menjadi subject penderitaan itu.
bukan soal tega- menegalah sebab kelumpuhan untuk menyuarakan hatiku...
saat kekanakan merajai emosi, terlintas bagaimana membalas...
saat kedewasaan merebut paksa singgasana kekanakan, terlintas bagaimana menyikapi...
saat cinta merenggut semuanya tanpa tersisa, terkutuk kekanakan dan kedewasaan karna di dalamnya masih bertahta kepicikan yg terbutakan kesakitan.
saat sayang hadir di tengah cinta yg sempat meradang, terbisik hati merangkul kembali, tetap disini, tersemat di sisi.
...dan... aku tak keberatan dikuasai cinta... tak keberatan mengembangkan sayang...
karna aku tau, ada sebongkah cinta agung tersimpan untukku di dalam kalbumu yg terselubung kidung.
kasihku... bagaimana kamu mencintaiku... aku sangat nikmati itu...
jangan pernah tanyakan bagaimana rasanya jadi aku...
...karna jawabku tak akan jauh dari yg kamu ucapkan saat kulontarkan pertanyaan yg sama kepadamu.
syukurku kumiliki kekasih sepertimu, sayang...
the one who keeps the love for you in every single day.
Rabu, 19 Januari 2011
Hujan
Aku suka rintik hujan
Gelitiknya seperti berkawan
Aku suka gerimis
Iramanya menyeru manis
Aku suka deras
Siramannya buat tawaku terkuras
Kunikmati saat awan putih beralih abu- abu
Kukagumi saat satu persatu butir air mengenai wajahku
Kuresapi saat rinainya basuh tubuhku
Hujan...
Ada ketenangan ketika aku bersamanya
Ada kesegaran ketika aku larut kedalamnya
Ada kesedihan yang hanya tertuang ketika aku turut hilirnya
Ada kebebasan tiada terkira ketika aku benamkan air mata dalam bulirnya
Hujan...
Seperti hadirmu kumaknai dia di hidupku
Hujan...
Sepertimu akan kucoba buat dia memaknaiku
Hujan...
Tetaplah setia untukku dan dirinya saat meluap rindu
Hujan...
Kumau kau simpan kenanganku hanya untukmu, dia, dan aku
Gelitiknya seperti berkawan
Aku suka gerimis
Iramanya menyeru manis
Aku suka deras
Siramannya buat tawaku terkuras
Kunikmati saat awan putih beralih abu- abu
Kukagumi saat satu persatu butir air mengenai wajahku
Kuresapi saat rinainya basuh tubuhku
Hujan...
Ada ketenangan ketika aku bersamanya
Ada kesegaran ketika aku larut kedalamnya
Ada kesedihan yang hanya tertuang ketika aku turut hilirnya
Ada kebebasan tiada terkira ketika aku benamkan air mata dalam bulirnya
Hujan...
Seperti hadirmu kumaknai dia di hidupku
Hujan...
Sepertimu akan kucoba buat dia memaknaiku
Hujan...
Tetaplah setia untukku dan dirinya saat meluap rindu
Hujan...
Kumau kau simpan kenanganku hanya untukmu, dia, dan aku
Senin, 17 Januari 2011
Second Letter
dear my love, somewhere over the rainbow.
aku bukan bintang yg selalu setia menghangatkan harimu
aku bukan bulan yg dengan gagahnya menjaga malammu
aku bukan pelangi yg menuang warna- warni di setiap kegelisahanmu
dan aku bukan matahari yg siap mempertahankan sinarnya meski hujan menitikkan ayunya
percik yg turun dari awan kelabu tak selalu dapat kutandaskan di pori tisu
debur lautan sangar yg dengan gagah bertandang pun tak selalu dapat kutakhlukkan dengan pembatas karang
aku hanyalah palet yg siap menjadi tempat saat kamu ingin menarikan kuas di atas kanvas bersketsa namun tak berwarna
di saat satu warna tak cukup tuk menyuarakan nyanyian rembulan yg tersemat di relung merah hati
padulah dengan satu warna lain atau lebih tanpa meragu dimana kecocokkan mejikuhibiniu akan tersurat indra penglihat
karna tak akan meletih selembar palet menjembatani pelangi yg mampu indahkan lengkung parasmu saat dunia akhirnya selaras dengan harapmu
berjanjilah bila takkan mengapa lukisan yg tak terselesaikan gradasi warnanya tergantikan oleh sebingkai sketsa baru yg siap mewadahi tiap gores kuasmu di spanjang binar mata karna papan sandaran yg tak pernah akan meletih itu tak melayak lagi oleh cat yg tak lagi basah karna kelembaban akhirnya melekat bersama singgahnya musim penghujan dari peraduan.
kasihku,
untuk hari- hariku yg selalu indah karnamu,
aku tak kan berhenti merenda elok memori yg tak kan pudar meski debu telah merajai sampul albummu
sehingga di setiap halaman yg kamu kunjungi kelak, aku tetap bisa menjembatani hadirnya pelangi yg pernah indahkan simpul bibirmu
dan kalaupun bulir embun memaksa tuk basahi bukit pipi, aku pastikan itu karna keindahan yg mengharu sampai ke kalbu
sayang,
yakinlah bahwa terik diciptakan oleh-Nya bukan tanpa keistimewaan untukmu dan untukku.
senyum itu, aku mau tabirnya selalu bertandang menyertaimu
with love, someone stays in your heart.
aku bukan bintang yg selalu setia menghangatkan harimu
aku bukan bulan yg dengan gagahnya menjaga malammu
aku bukan pelangi yg menuang warna- warni di setiap kegelisahanmu
dan aku bukan matahari yg siap mempertahankan sinarnya meski hujan menitikkan ayunya
percik yg turun dari awan kelabu tak selalu dapat kutandaskan di pori tisu
debur lautan sangar yg dengan gagah bertandang pun tak selalu dapat kutakhlukkan dengan pembatas karang
aku hanyalah palet yg siap menjadi tempat saat kamu ingin menarikan kuas di atas kanvas bersketsa namun tak berwarna
di saat satu warna tak cukup tuk menyuarakan nyanyian rembulan yg tersemat di relung merah hati
padulah dengan satu warna lain atau lebih tanpa meragu dimana kecocokkan mejikuhibiniu akan tersurat indra penglihat
karna tak akan meletih selembar palet menjembatani pelangi yg mampu indahkan lengkung parasmu saat dunia akhirnya selaras dengan harapmu
berjanjilah bila takkan mengapa lukisan yg tak terselesaikan gradasi warnanya tergantikan oleh sebingkai sketsa baru yg siap mewadahi tiap gores kuasmu di spanjang binar mata karna papan sandaran yg tak pernah akan meletih itu tak melayak lagi oleh cat yg tak lagi basah karna kelembaban akhirnya melekat bersama singgahnya musim penghujan dari peraduan.
kasihku,
untuk hari- hariku yg selalu indah karnamu,
aku tak kan berhenti merenda elok memori yg tak kan pudar meski debu telah merajai sampul albummu
sehingga di setiap halaman yg kamu kunjungi kelak, aku tetap bisa menjembatani hadirnya pelangi yg pernah indahkan simpul bibirmu
dan kalaupun bulir embun memaksa tuk basahi bukit pipi, aku pastikan itu karna keindahan yg mengharu sampai ke kalbu
sayang,
yakinlah bahwa terik diciptakan oleh-Nya bukan tanpa keistimewaan untukmu dan untukku.
senyum itu, aku mau tabirnya selalu bertandang menyertaimu
with love, someone stays in your heart.
Minggu, 16 Januari 2011
Sepenggal Mimpi
Di rumah ini, dulu aku pernah merajut mimpi
Di ruang ini, dimana keutuhan kasih menjadikanku saksi,
aku pernah bermimpi kelak akan kujadikan mereka saksi kita
Di tempat ini, bukan iri, bukan benci, tapi mimpi
Bukankah aneh bila ditengah segala kesempurnaan kasih aku merasa pedih?
Bukankah aneh bila di tempat aku memimpikanmu,
tempat yang kutegaskan akan ada untukmu dan aku satu saat nanti,
aku merasa sangat frustasi?
Tapi sejauh ini, kasih, saat ini, aku masih setia menikmati
Aku masih setia melambungkan angan bahwa akan ada kamu nanti
Dan aku sangat senang sekali.. karna kamu selalu indahkan mimpiku,
mencerahkan lamunku
Meski aku tau ini hanya sebatas ilusi
Kasih, memimpikanmu adalah hal yang paling aku gemari saat kesendirian menyapaku. Memimpikanmu membuatku mengerti bahwa kau sangat berarti. Memimpikanmu memberiku motivasi untuk memperbaiki diri, hingga saat mimpi itu datang meski tak seindah harapan, aku telah pantas untuk menanyakan ‘Masih adakah rasa untukku? Apakah merindukanku?’ lalu melanjutkan ke bahasan yang lebih pokok sekaligus melepas rindu dan haru karna ternyata kamu mau menjadikan mimpiku nyata. Begitu lah aku menjalani hari dengan penuh mimpi disini, kasih. Aku sirat dan surat di sketsa ini karna aku tau cuma kamu yang mampu pahami.
Di ruang ini, dimana keutuhan kasih menjadikanku saksi,
aku pernah bermimpi kelak akan kujadikan mereka saksi kita
Di tempat ini, bukan iri, bukan benci, tapi mimpi
Bukankah aneh bila ditengah segala kesempurnaan kasih aku merasa pedih?
Bukankah aneh bila di tempat aku memimpikanmu,
tempat yang kutegaskan akan ada untukmu dan aku satu saat nanti,
aku merasa sangat frustasi?
Tapi sejauh ini, kasih, saat ini, aku masih setia menikmati
Aku masih setia melambungkan angan bahwa akan ada kamu nanti
Dan aku sangat senang sekali.. karna kamu selalu indahkan mimpiku,
mencerahkan lamunku
Meski aku tau ini hanya sebatas ilusi
Kasih, memimpikanmu adalah hal yang paling aku gemari saat kesendirian menyapaku. Memimpikanmu membuatku mengerti bahwa kau sangat berarti. Memimpikanmu memberiku motivasi untuk memperbaiki diri, hingga saat mimpi itu datang meski tak seindah harapan, aku telah pantas untuk menanyakan ‘Masih adakah rasa untukku? Apakah merindukanku?’ lalu melanjutkan ke bahasan yang lebih pokok sekaligus melepas rindu dan haru karna ternyata kamu mau menjadikan mimpiku nyata. Begitu lah aku menjalani hari dengan penuh mimpi disini, kasih. Aku sirat dan surat di sketsa ini karna aku tau cuma kamu yang mampu pahami.
Hipnotis
klip sederhana ini aku buat untuk lucu- lucuan aja.
rayumu yg selalu berhasil menggerakkanku ke arah yg kamu ingini, ke arah yg terbaik, bagiku layaknya hipnotis.
kadang timbul tanya, jangan- angan kamu mentalis. heheheh
Jumat, 14 Januari 2011
when you love someone
Don't go!
Di awal kita jumpa, entah kenapa, aku terdorong melontarkan kata 'Don't go!' itu kepadamu. Aku merasa senang, nyaman, dan asik berbincang tentang apapun, kapanpun denganmu.
If you love someone, just be brave to say..
Aku berani bilang jangan pergi..
Kamu berani menanyakan isi hatiku..
Lalu kita pun berani mengikat hati dan merangkai mimpi..
Rabu, 12 Januari 2011
Lemon Tree
Before I met you, all I knew was bittter
For me bitter was more than a taste
In bitter I found who I was
In bitter I found how life was
In bitter I found how to feel something bad to be something good
After I met you, still all I knew was bitter
I never wanted to know the taste of orange
I never wanted to know the taste of sugar
And I never wanted to try them
Cause all I knew my tongue didn’t want to taste it
After you stood beside me, bitter was still with me
I did love it more than before
I did feel this taste as something wonderful
After you were called by my heart in every single day, I knew how to taste orange and sugar
The taste that in all of my life I never enjoyed
Now, you stand inside my heart, and bitter still stands in my life
But I find something different in me
I start to know other tastes
And I know how to enjoy them when life is tasted too bitter for me
Yeah! It’s perfect! Bitter, sour, and sweet
You, my dear, the one who told me how to enjoy this bitter life to be something tasty. From now on, I have a plan to have my own lemon tree cause I start to love its taste
For me bitter was more than a taste
In bitter I found who I was
In bitter I found how life was
In bitter I found how to feel something bad to be something good
After I met you, still all I knew was bitter
I never wanted to know the taste of orange
I never wanted to know the taste of sugar
And I never wanted to try them
Cause all I knew my tongue didn’t want to taste it
After you stood beside me, bitter was still with me
I did love it more than before
I did feel this taste as something wonderful
After you were called by my heart in every single day, I knew how to taste orange and sugar
The taste that in all of my life I never enjoyed
Now, you stand inside my heart, and bitter still stands in my life
But I find something different in me
I start to know other tastes
And I know how to enjoy them when life is tasted too bitter for me
Yeah! It’s perfect! Bitter, sour, and sweet
You, my dear, the one who told me how to enjoy this bitter life to be something tasty. From now on, I have a plan to have my own lemon tree cause I start to love its taste
Selasa, 11 Januari 2011
Kangen
Kangen
Hati serasa diaduk- aduk
Pikiran berkecamuk
Hasrat menumpuk
Ingin rasanya merengkuhmu dalam pelukan, sayang
Melabuhkan semua rasa di dada
Melagukan setiap helaan nafasku di telingamu
Hingga kau tahu betapa kurindu kamu
Ingin rasanya mengaitkan kelingkingku di punyamu
Melafalkan janji bahwa ku takkan merindu selain padamu
Menggenggam jemari hangatmu hingga kau rasakan getarku
Hingga kau tahu betapa nyaman ku bersama dirimu
Saat rindu merasuk kalbu
Ku ingin kaupun juga merindu, sayang
Hingga hasrat kita menyatu meski raga tak bertemu
Hati serasa diaduk- aduk
Pikiran berkecamuk
Hasrat menumpuk
Ingin rasanya merengkuhmu dalam pelukan, sayang
Melabuhkan semua rasa di dada
Melagukan setiap helaan nafasku di telingamu
Hingga kau tahu betapa kurindu kamu
Ingin rasanya mengaitkan kelingkingku di punyamu
Melafalkan janji bahwa ku takkan merindu selain padamu
Menggenggam jemari hangatmu hingga kau rasakan getarku
Hingga kau tahu betapa nyaman ku bersama dirimu
Saat rindu merasuk kalbu
Ku ingin kaupun juga merindu, sayang
Hingga hasrat kita menyatu meski raga tak bertemu
Senin, 10 Januari 2011
jealousy
tak ada yg lebih indah dari kecemburuan, sayang. kalau untuk mereka yg tidak memiliki hubungan spesial saja rasanya sesak, apalagi untuk diriku yg terang2 mendiplomasikan bahwa kau adalah milikku, dan kaupun telah mengiyakannya. saat jilatan larva pijar menjelajaahi dinding hati, lalu membakar isinya, hanya satu yg aku ingini, yakinkanku bahwa kau hanya untukku, bahwa dia, mereka, bukanlah ancaman, bukanlah sulutan dukungan yg mampu membumihanguskan seluruh asa di hidupku.
but jealous buat seseorang yg sangat berharga buat kita nggak ada ruginya kan? jadi nikmati saja. apalagi imbas dari jealous nggak selalu buruk, dan untukku dan kamu jealous yg menyesakkan itu sangat berjasa dalam peningkatan rasa sayang dan takut kehilangan.
so? love is so flat without jealousy, guys!
but jealous buat seseorang yg sangat berharga buat kita nggak ada ruginya kan? jadi nikmati saja. apalagi imbas dari jealous nggak selalu buruk, dan untukku dan kamu jealous yg menyesakkan itu sangat berjasa dalam peningkatan rasa sayang dan takut kehilangan.
so? love is so flat without jealousy, guys!
lagi
well, lagi2 kita harus melepaskan harapan karna satu kata 'takdir'.
seakan apa yg kita rasa ini tak berharga, seakan kita tak layak dapatkannya, seakan kita tak punya tempat di atas lembar yg bertuliskan 'selamanya'.
tapi ini bukan soal menyoal akan kata 'seakan', ini adalah keharusan dan kepastian tentang garis 'sejajar'.
kesejajaran membuat kita tak pernah menemukan titik atau kelokan untuk menautkan kebersamaan. indah memang sejajar itu, sedap dipandang karna berdampingan dengan rapi, tapi untuk kita yg memiliki keinginan untuk bersatu?
one thing that we have to believe, dear. takdir bukanlah hasil akhir, tapi segala sesuatu yg telah ditulis untuk kita, yaitu helaan demi helaan nafas yg kita alami. pertemuan kita kusebut pula takdir. apa yg kita rasapun aku sebut itu takdir. bila takdirmu adalah menjadi sesuatu yg ada di depanku sepanjang hidupku, aku sama sekali tak keberatan. jika takdir selalu dikaitkan dengan kemusnahan harapan untuk sesuatu yg tak diharapkan, aku akan membuat takdir mengindahkan kemusnahan harapanku itu.
seakan apa yg kita rasa ini tak berharga, seakan kita tak layak dapatkannya, seakan kita tak punya tempat di atas lembar yg bertuliskan 'selamanya'.
tapi ini bukan soal menyoal akan kata 'seakan', ini adalah keharusan dan kepastian tentang garis 'sejajar'.
kesejajaran membuat kita tak pernah menemukan titik atau kelokan untuk menautkan kebersamaan. indah memang sejajar itu, sedap dipandang karna berdampingan dengan rapi, tapi untuk kita yg memiliki keinginan untuk bersatu?
one thing that we have to believe, dear. takdir bukanlah hasil akhir, tapi segala sesuatu yg telah ditulis untuk kita, yaitu helaan demi helaan nafas yg kita alami. pertemuan kita kusebut pula takdir. apa yg kita rasapun aku sebut itu takdir. bila takdirmu adalah menjadi sesuatu yg ada di depanku sepanjang hidupku, aku sama sekali tak keberatan. jika takdir selalu dikaitkan dengan kemusnahan harapan untuk sesuatu yg tak diharapkan, aku akan membuat takdir mengindahkan kemusnahan harapanku itu.
Sabtu, 08 Januari 2011
ssssstttttttt
Aku punya rahasia
Kamu juga punya rahasia
Mereka punya rahasia
Kita punya rahasia
Kami punya rahasia
Tuhan pun punya rahasia
Aku tak mau siapa pun tahu rahasiaku
Begitu juga kamu, mereka, kita, dan kami
Rahasia ilahi? Siapa yang tahu?
Kenapa kamu mau tahu rahasiaku?
Kenapa mereka mau tahu rahasia kita?
Kenapa kami mau tahu rahasia kalian?
Bukankah kita sama- sama benci jika orang lain tahu rahasia kita?
Aku punya rahasia
Kamu juga punya rahasia
Mereka punya rahasia
Kita punya rahasia
Kami punya rahasia
Dan Tuhan juga punya rahasia
Kamu juga punya rahasia
Mereka punya rahasia
Kita punya rahasia
Kami punya rahasia
Tuhan pun punya rahasia
Aku tak mau siapa pun tahu rahasiaku
Begitu juga kamu, mereka, kita, dan kami
Rahasia ilahi? Siapa yang tahu?
Kenapa kamu mau tahu rahasiaku?
Kenapa mereka mau tahu rahasia kita?
Kenapa kami mau tahu rahasia kalian?
Bukankah kita sama- sama benci jika orang lain tahu rahasia kita?
Aku punya rahasia
Kamu juga punya rahasia
Mereka punya rahasia
Kita punya rahasia
Kami punya rahasia
Dan Tuhan juga punya rahasia
ikat
Aku angin
Kamu bunga
Aku bersahabat
Buahmu mencuat
Aku angin
Kamu bunga
Aku mengembang
Kamu tumbang
Kenapa kehidupanmu bergantung pada angin?
Aku bukanlah sesuatu yang selalu bisa bersahabat
Aku bahkan tak pernah mengerti bunga
Aku bebas ke tempat yang aku suka, tapi bunga?
Aku angin
Kamu bunga
Aku ingin kau tak jadi bunga
Tapi kau tetap ingin aku jadi angin
Karna aku angin
Dan kamu bunga
Aku tetaplah angin
Kamu tetaplah bunga
Kamu bunga
Aku bersahabat
Buahmu mencuat
Aku angin
Kamu bunga
Aku mengembang
Kamu tumbang
Kenapa kehidupanmu bergantung pada angin?
Aku bukanlah sesuatu yang selalu bisa bersahabat
Aku bahkan tak pernah mengerti bunga
Aku bebas ke tempat yang aku suka, tapi bunga?
Aku angin
Kamu bunga
Aku ingin kau tak jadi bunga
Tapi kau tetap ingin aku jadi angin
Karna aku angin
Dan kamu bunga
Aku tetaplah angin
Kamu tetaplah bunga
hah
Kamu bilang cinta aku
Aku bilang ah
Kamu bilang hidupmu untukku
Aku bilang arrrghh
Kamu ingin aku untukmu
Aku bilang hah
Kamu ingin hidup denganku
Aku bilang huuufft
Aku bilang tak cinta kamu
Kamu bilang hiks
Aku bilang hidupku tak kan untukmu
Kamu bilang huaaa
Aku bilang tak ingin aku untukmu
Kamu bilang aku mohon
Aku tak ingin hidup denganmu
Kamu semakin melonglong
Aku bilang aku cinta kamu
Kamu tersipu malu
Hatiku bilang itu palsu
Hatimu tak mau tahu
hmmmmmm
Aku bilang ah
Kamu bilang hidupmu untukku
Aku bilang arrrghh
Kamu ingin aku untukmu
Aku bilang hah
Kamu ingin hidup denganku
Aku bilang huuufft
Aku bilang tak cinta kamu
Kamu bilang hiks
Aku bilang hidupku tak kan untukmu
Kamu bilang huaaa
Aku bilang tak ingin aku untukmu
Kamu bilang aku mohon
Aku tak ingin hidup denganmu
Kamu semakin melonglong
Aku bilang aku cinta kamu
Kamu tersipu malu
Hatiku bilang itu palsu
Hatimu tak mau tahu
hmmmmmm
arti buatku
Terang
Redup
Gelap
Terang
Redup
Gelap
Terang
Redup
Gelap
Terang memberi jalan
Redup memberi tenang
Gelap memberi nyaman
Terang
Redup
Gelap
Kamu terang
Kamu redup
Kamu gelap
Redup
Gelap
Terang
Redup
Gelap
Terang
Redup
Gelap
Terang memberi jalan
Redup memberi tenang
Gelap memberi nyaman
Terang
Redup
Gelap
Kamu terang
Kamu redup
Kamu gelap
plin plan
Kau tahu?
Tidak, aku tak tahu
Apa iya?
Iya, aku tak tahu
Kau jujur?
Iya, aku jujur
Benarkah?
Benar, itu benar
Kau sungguh tak tahu?
Ya, aku sungguh tak tahu
Emm, apa kau mau aku beri sesuatu?
Wah, tentu aku mau
Apa kau tahu apa yang kan ku berikan padamu?
Tidak, aku tak tahu
Lalu, apa kau mau?
Wah, tentu aku mau
Apa kau yakin?
Ya, aku yakin
Kau tak tahu tapi kau yakin?
Emm apa itu?
Tidak, aku tak tahu
Apa iya?
Iya, aku tak tahu
Kau jujur?
Iya, aku jujur
Benarkah?
Benar, itu benar
Kau sungguh tak tahu?
Ya, aku sungguh tak tahu
Emm, apa kau mau aku beri sesuatu?
Wah, tentu aku mau
Apa kau tahu apa yang kan ku berikan padamu?
Tidak, aku tak tahu
Lalu, apa kau mau?
Wah, tentu aku mau
Apa kau yakin?
Ya, aku yakin
Kau tak tahu tapi kau yakin?
Emm apa itu?
me
Kau tak kan mengerti
Aku menulis ini tak untuk dimengerti
Kau tak kan tahu
Aku menulis ini tak untuk diketahui
Atau kau mengerti tapi aku tak tahu?
Atau kau tahu tapi aku tak mengerti?
Atau kau tahu arti tulisanku?
Atau justru aku yang tak tahu arti tulisanku?
Kau kenal aku seperti kau mengenal tulisanku
Aku kenal kamu seperti aku mengenal tulisanku
Kau memahami tulisanku seperti kau pahami dirimu
Aku memahami tulisanku seperti aku paham diriku
Aku menulis ini tak untuk dimengerti
Kau tak kan tahu
Aku menulis ini tak untuk diketahui
Atau kau mengerti tapi aku tak tahu?
Atau kau tahu tapi aku tak mengerti?
Atau kau tahu arti tulisanku?
Atau justru aku yang tak tahu arti tulisanku?
Kau kenal aku seperti kau mengenal tulisanku
Aku kenal kamu seperti aku mengenal tulisanku
Kau memahami tulisanku seperti kau pahami dirimu
Aku memahami tulisanku seperti aku paham diriku
sketsa hati
Mata berpindar
Hati belukar
Pikiran berakar
Telinga berlayar
Jari beranggar
Pena berselancar
Kertas berkapar
Aku bernanar
Kamu bergusar
Kalian bersandar
Senang bersiar
Duka bersinar
Bimbang berikrar
Kurekatkan jadi satu
Ketika kutarikan tintaku
Kulantakkan jadi abu
Ketika kusuarakan batinku
Hati belukar
Pikiran berakar
Telinga berlayar
Jari beranggar
Pena berselancar
Kertas berkapar
Aku bernanar
Kamu bergusar
Kalian bersandar
Senang bersiar
Duka bersinar
Bimbang berikrar
Kurekatkan jadi satu
Ketika kutarikan tintaku
Kulantakkan jadi abu
Ketika kusuarakan batinku
beast
Aku terus memandangmu
Aku terus memikirkanmu
Aku terus mengharapkanmu
Aku terus mendambamu
Kamu terus berpaling dariku
Kamu terus mengalihkan pikiranku
Kamu terus menghindar dariku
Kamu terus mengenyahkan diriku
Aku terus memompa air mataku
Kamu terus memeras tawamu
Aku terus mengasah hatiku
Kamu terus melagukan siulmu
Aku coba pejamkan matakku
Kamu coba buatku melihat gembiramu
Aku coba menghapus lukaku
Kamu coba buatku sekarat oleh ejekmu
Aku terus memikirkanmu
Aku terus mengharapkanmu
Aku terus mendambamu
Kamu terus berpaling dariku
Kamu terus mengalihkan pikiranku
Kamu terus menghindar dariku
Kamu terus mengenyahkan diriku
Aku terus memompa air mataku
Kamu terus memeras tawamu
Aku terus mengasah hatiku
Kamu terus melagukan siulmu
Aku coba pejamkan matakku
Kamu coba buatku melihat gembiramu
Aku coba menghapus lukaku
Kamu coba buatku sekarat oleh ejekmu
anjing
Kalau kau bilang cintamu seluas samudera
Aku akan bilang cintaku seluas dunia
Kalau kau bilang rindumu setengah mati
Aku akan bilang rinduku setengah reinkarnasi
Kau bilang janji tak kan tinggalkanku
Aku bilang sumpah selalu bersamamu
Kau bilang tak akan ada yang bisa pisahkan kita
Aku bilang akan ku kalahkan semua tembok penghalang
Kau bilang kita bagai merpati
Aku bilang kita bagai anjing
Kau bilang rela mati bersamaku
Aku bilang kau memang anjing
Aku akan bilang cintaku seluas dunia
Kalau kau bilang rindumu setengah mati
Aku akan bilang rinduku setengah reinkarnasi
Kau bilang janji tak kan tinggalkanku
Aku bilang sumpah selalu bersamamu
Kau bilang tak akan ada yang bisa pisahkan kita
Aku bilang akan ku kalahkan semua tembok penghalang
Kau bilang kita bagai merpati
Aku bilang kita bagai anjing
Kau bilang rela mati bersamaku
Aku bilang kau memang anjing
bulan
Bulan selalu dikaitkan dengan kecantikan
Bintang selalu dikaitkan dengan ketenaran
Siamang selalu dikaitkan dengan keburukan
Beruang selalu dikaitkkan dengan kerakusan
Kau adalah bulan
Kau adalah bintang
Kau bukanlah siamang
Dan kau bukanlah beruang
Aku siamang saat ku ingin bulan
Aku beruang saat ku ingin bintang
Aku bulan hati siamang
Aku bintang hasrat beruang
Kau lah bulan
Kau lah bintang
Kau bintang karena bulanmu
Kau bulan karena kau memang bulan
Bintang selalu dikaitkan dengan ketenaran
Siamang selalu dikaitkan dengan keburukan
Beruang selalu dikaitkkan dengan kerakusan
Kau adalah bulan
Kau adalah bintang
Kau bukanlah siamang
Dan kau bukanlah beruang
Aku siamang saat ku ingin bulan
Aku beruang saat ku ingin bintang
Aku bulan hati siamang
Aku bintang hasrat beruang
Kau lah bulan
Kau lah bintang
Kau bintang karena bulanmu
Kau bulan karena kau memang bulan
nikmat
Tatapanmu mencongkel dasar jiwaku
Merobek kulit ariku
Mencabik palung hatiku
Sentuhanmu mendesirkan nadiku
Memagut rasa rinduku
Menguras gairah mudaku
Kau bagaikan bayangan
Kau bagaikan ingatan
Dan aku adalah obyeknya
Kau tikam kebebasanku
Kau remuk pikiranku
Kau kandaskan duniaku
Dan aku menikmati iitu
Merobek kulit ariku
Mencabik palung hatiku
Sentuhanmu mendesirkan nadiku
Memagut rasa rinduku
Menguras gairah mudaku
Kau bagaikan bayangan
Kau bagaikan ingatan
Dan aku adalah obyeknya
Kau tikam kebebasanku
Kau remuk pikiranku
Kau kandaskan duniaku
Dan aku menikmati iitu
adaku
Kau nafaskan getar cinta
Ku detakkan denyut rindu
Kau koyak kebencian menjadi kehangatan
Ku remukkan dendam menjadi kelembutan
Kau ombak
Aku arus
Kau tanah
Aku hara
Aku ada karena kau
Kau ada tuk adakanku
Ku detakkan denyut rindu
Kau koyak kebencian menjadi kehangatan
Ku remukkan dendam menjadi kelembutan
Kau ombak
Aku arus
Kau tanah
Aku hara
Aku ada karena kau
Kau ada tuk adakanku
gelisah
Hatiku menyublim saat ku dengar namamu
Pikiranku menguap ketika ku ingat dirimu
Matamu menampar nyataku
Senyummu membunuh sadarku
Batinku mencicit
Nuraniku terhardik
Pijakanku melesu
Tegapku melayu
Cahayaku kembalilah padaku
Bantu aku temukan bayangku
Hatiku menyublim saat ku dengar namamu
Pikiranku menguap ketika ku ingat dirimu
Pikiranku menguap ketika ku ingat dirimu
Matamu menampar nyataku
Senyummu membunuh sadarku
Batinku mencicit
Nuraniku terhardik
Pijakanku melesu
Tegapku melayu
Cahayaku kembalilah padaku
Bantu aku temukan bayangku
Hatiku menyublim saat ku dengar namamu
Pikiranku menguap ketika ku ingat dirimu
bayang
Anganku terpahat sudah di dinding kalbu
Tertatah lamunan biru yang selalu menderu
Brak!!! Bagai buldoser kau gempur harapku
Duar!!! Dengan keji kau kaparkan niatku
Aku benci! Kau tak berhati!
Kau kawanan penyihir di tengah pesta peri
Aku gusar! Kau berhati dajal!
Kau penguasa pelopor lara saat lukaku bertemu ramu
Tertatih-tatih kucoba meraih kasih
Tersayat- sayat bagai luka tersiram garam
Kau... kau... kau begitu akbar tuk ku raih
Kau begitu jalang tuk ku terkam
Hina! Caci! Cerca! Maki!
Semua yang kau ingini aku siap menengadahkan diri
Meski harus ku hancurkan harga diri
Ku tak mampu ingkari bagiku kau hidup dan mati
Tertatah lamunan biru yang selalu menderu
Brak!!! Bagai buldoser kau gempur harapku
Duar!!! Dengan keji kau kaparkan niatku
Aku benci! Kau tak berhati!
Kau kawanan penyihir di tengah pesta peri
Aku gusar! Kau berhati dajal!
Kau penguasa pelopor lara saat lukaku bertemu ramu
Tertatih-tatih kucoba meraih kasih
Tersayat- sayat bagai luka tersiram garam
Kau... kau... kau begitu akbar tuk ku raih
Kau begitu jalang tuk ku terkam
Hina! Caci! Cerca! Maki!
Semua yang kau ingini aku siap menengadahkan diri
Meski harus ku hancurkan harga diri
Ku tak mampu ingkari bagiku kau hidup dan mati
stuck
Pyaaaar!!!!!
Otakku jatuh
Pecah
Serpihanya berserak
Menyatu dengan pecahan asbak
Batinku berteriak
Tapi aku tak mampu bertindak
Aku tak mampu atau tak mau?
Atau aku mau tapi tak mampu?
Aku butuh otakku tuk tetap di tengkorakku
Tapi aku juga tak mau jika otakku rampas hidupku tuk jawab keingintahuanmu
Otakku jatuh
Pecah
Serpihanya berserak
Menyatu dengan pecahan asbak
Batinku berteriak
Tapi aku tak mampu bertindak
Aku tak mampu atau tak mau?
Atau aku mau tapi tak mampu?
Aku butuh otakku tuk tetap di tengkorakku
Tapi aku juga tak mau jika otakku rampas hidupku tuk jawab keingintahuanmu
jerat
Gemetar kelopak mataku
Nanar cahaya hatiku
Pindarnya bak muramnya lentera
Energinya melahar membakar amarah
Ragaku terjerat gelas
Senyap, pengap, sesak
Ku tatap ke depan bayangnya terbias
Ku tatap ke atas harapanku terkuras
Semakin keras ku berteriak
Semakin beriak suara isak
Semakin keras ku menggusar
Semakin terkapar dan meranggas
Nanar cahaya hatiku
Pindarnya bak muramnya lentera
Energinya melahar membakar amarah
Ragaku terjerat gelas
Senyap, pengap, sesak
Ku tatap ke depan bayangnya terbias
Ku tatap ke atas harapanku terkuras
Semakin keras ku berteriak
Semakin beriak suara isak
Semakin keras ku menggusar
Semakin terkapar dan meranggas
hentikan waktuku
Gelisah. Itulah yg kurasa saat ini. Berbagai cara kulakukan untuk mengisi hati dan pikiranku, namun sepertinya tak ada ruang lagi. Penuh. Berserak semua sampah yg tak hanya belum dapat ku dahur ulang, bahkan kubuangpun belum bisa. Ingin rasanya aku melepas kepala ini, menumpahkan semua isi hati, dan menghapus semua kepaitan ini. Aku ingin bebas.
Aku melihat dunia ini begitu indah, tapi entah kenapa aku tidak bisa merasakannya. Segarnya udara yg kuhirup bahkan tak mampu menyentakkan ilusi yg berkecimpung di dalam batinku. Cantiknya mawar depan rumah maupun yg kulihat tak dapat menata samar dan kacaunya kenyataan di depan mataku yg siap hancurkanku setiap saat.
Aku tinggal menunggu waktu. Rasanya ingin sekali waktu itu tak pernah datang. Saat aku terpaksa melakukan sesuatu yg pastinya akan sangat menyakiti hatiku, meluluhlantakkanku, dan mencucurkan semua isakku. Rasanya tak sanggup aku menghadapinya.
Berkali- kali aku coba tuk hentikan waktuku. Aku begitu takut menyapa kedatangan hari itu. Begitu takutnya hingga aku coba berkali- kali mendatangkannya sendiri karna kupikir tak kan menyakitkan kalau aku yg mensutradarainya. Aku sakit. Aku galau. Aku kalut. Pecah rasanya semua pembuluh darahku. Sarafkupun tak mampu menjalankan masing2 tugasnya. Begitu hancurnya aku, begitu nyerinya palung hatiku, hingga dalam hitungan hari aku menyerah dan aku kembali mendustai kenyataan demi esok hari, demi semua urusanku dengan duniaku yg hanya mampu kuselesaikan bila hatiku menyatu dengan ragaku.
koma
koma berarti berlanjut
titik berarti berhenti
tapi hidupku tak pernah bertemu titik
koma, koma, dan koma
kalimat seru berarti menyeru
tapi hidupku selalu dalam tanda tanya
entah kutipan apa yang bisa aku ambil dari hidupku
menentukan pilihan hidup pun aku tak mampu
koma berarti berlanjut
titik berarti berhenti
jika hidupku berhenti, apakah urusan duniaku berhenti?
Selalu ada tanya
Selalu ada jawaban
Tapi jawaban mana yang paling benar?
Ah, atau semua jawaban itu benar?
Atau jawaban yang aku ambil salah?
Atau yang salah itu yang cocok denganku?
Atau aku tak berani mengambil jawaban yang benar
Karena yang benar bagiku salah?
Satu tanyaku
Bukankah kita dilahirkan dengan fisik dan karakter berbeda?
Lalu kenapa harus dicerca ketika sekarang kita tak sama?
Sabtu, 01 Januari 2011
First Letter
Dear hani bani biri2.
Hani bani, mudah2an apa yg aku tulis bisa wakilin perasaanku ke kamu.
Heheh, karna aku nggak pinter nulis, apa yg aku ungkapin disini akan sesederhana isi hatiku.
Kita sama2 tau, kita belum pernah ketemu. Lama kita saling kenal, berbagi kisah hingga akhirnya ada keinginan untuk saling memahami, mengerti, dan peduli. Bukan cuma itu, kita juga selanjutnya mengikrarkan apa yg kita rasa, apa yg kita sebut saling ini dengan satu kata ‘Sayang‘. Kita sama2 belajar untuk saling menjaga, percaya, mengerti, menyayangi, mengisi, menemani, membimbing, dan melengkapi.
Kamu tau, sayang? kehadiran kamu di hidupku memberi nyawa. Aku lebih semangat jalani hari, lebih optimis, lebih mensyukuri apa yg dianugrahkan kepadaku, dan aku tau ini bukan mimpi.
Sebisa mungkin aku bakal jaga kamu di hatiku, g akan aku biarkan perasaanku sakiti kamu. Walau kita terpisah jarak, aku percaya ‘Kesalingan‘ ini menyatukan kita.
Hope you are fine there, biri2. Be good! ;)
With love, stupid bani..
Hani bani, mudah2an apa yg aku tulis bisa wakilin perasaanku ke kamu.
Heheh, karna aku nggak pinter nulis, apa yg aku ungkapin disini akan sesederhana isi hatiku.
Kita sama2 tau, kita belum pernah ketemu. Lama kita saling kenal, berbagi kisah hingga akhirnya ada keinginan untuk saling memahami, mengerti, dan peduli. Bukan cuma itu, kita juga selanjutnya mengikrarkan apa yg kita rasa, apa yg kita sebut saling ini dengan satu kata ‘Sayang‘. Kita sama2 belajar untuk saling menjaga, percaya, mengerti, menyayangi, mengisi, menemani, membimbing, dan melengkapi.
Kamu tau, sayang? kehadiran kamu di hidupku memberi nyawa. Aku lebih semangat jalani hari, lebih optimis, lebih mensyukuri apa yg dianugrahkan kepadaku, dan aku tau ini bukan mimpi.
Sebisa mungkin aku bakal jaga kamu di hatiku, g akan aku biarkan perasaanku sakiti kamu. Walau kita terpisah jarak, aku percaya ‘Kesalingan‘ ini menyatukan kita.
Hope you are fine there, biri2. Be good! ;)
With love, stupid bani..
Langganan:
Postingan (Atom)