Di rumah ini, dulu aku pernah merajut mimpi
Di ruang ini, dimana keutuhan kasih menjadikanku saksi,
aku pernah bermimpi kelak akan kujadikan mereka saksi kita
Di tempat ini, bukan iri, bukan benci, tapi mimpi
Bukankah aneh bila ditengah segala kesempurnaan kasih aku merasa pedih?
Bukankah aneh bila di tempat aku memimpikanmu,
tempat yang kutegaskan akan ada untukmu dan aku satu saat nanti,
aku merasa sangat frustasi?
Tapi sejauh ini, kasih, saat ini, aku masih setia menikmati
Aku masih setia melambungkan angan bahwa akan ada kamu nanti
Dan aku sangat senang sekali.. karna kamu selalu indahkan mimpiku,
mencerahkan lamunku
Meski aku tau ini hanya sebatas ilusi
Kasih, memimpikanmu adalah hal yang paling aku gemari saat kesendirian menyapaku. Memimpikanmu membuatku mengerti bahwa kau sangat berarti. Memimpikanmu memberiku motivasi untuk memperbaiki diri, hingga saat mimpi itu datang meski tak seindah harapan, aku telah pantas untuk menanyakan ‘Masih adakah rasa untukku? Apakah merindukanku?’ lalu melanjutkan ke bahasan yang lebih pokok sekaligus melepas rindu dan haru karna ternyata kamu mau menjadikan mimpiku nyata. Begitu lah aku menjalani hari dengan penuh mimpi disini, kasih. Aku sirat dan surat di sketsa ini karna aku tau cuma kamu yang mampu pahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar