Sebuah pertanyaan yang ku dengar dari acara TV favoritku kemarin malam ini simple tapi menarik, dimana penonton diberi kesempatan untuk memikirkan jawabannya selama jeda iklan.
Mana yang lebih baik? Mencintai atau dicintai?
Seketika aku menjawab mencintai.
Alasanku:
1. Dicintai oleh orang yang tidak kita cinta itu beban.
2. Mencintai tidak pernah membuat lelah karena kita selalu termotivasi dan tersemangati.
Setelah tayangan iklan selesai, alasan demi alasan dari masing- masing jawaban mulai terdengar. Lalu orang bijak itu mengambil benang merah dari semua alasan- alasan yang terucap dengan jawaban yang singkat dan mengena, yaitu:
Lebih baik mencintai, karena dengan mencintai kita akan senantiasa termotivasi untuk memperbaiki diri terlepas dari diterima atau tidaknya cinta kita.
Aku pikir- pikir memang benar seperti itu. Saat mencintai seseorang, kita senantiasa, tanpa paksaan, dengan tulus memperbaiki diri di segala sisi karena ingin menjadi yang terbaik untuknya.
Kalau dicintai? Hahahaha. Selain menjadi beban jika kita tidak memiliki perasaan yang sama dengan orang yang mencintai kita, kita juga tak jarang merasa unggul, congkak, sombong, dan akhirnya membuat kita merasa memiliki kelebihan, sehingga bukan instropeksi ataupun motivasi untuk menjadi yang lebih baik yang kita lakukan atau peroleh, namun stuck dengan kualitas yang kita punya yang lambat laun menurun karena dihinggapi oleh kesombongan dan keangkuhan.
I wont stop loving you then :)
To many mind will kill you, so does the empty mind. Don't let your heart dry! Fill it! If there is no more space in your heart, let your fingers do it on empty sketching-paper.
Senin, 21 Februari 2011
Minggu, 20 Februari 2011
Heheh
Kamu tau, kasih.. betapa senangnya aku hari- hari terakhir ini.
begitu banyak yg tak terkatakan akhirnya aku katakan.
sepolos isi hatiku tentang apa yg sesungguhnya aku rasa, aku ungkap semuanya.
aku putuskan tuk katakan karna aku tak mau kebodohan mengalahkan kejujuran dan akhirnya membuatku kehilangan.
tak banyak harapku.. hanya ingin kamu tau dan tak salah mengartikanku..
tak menjanjikan sesuatu untuk kesekian kalinya karna suasana sudah tak seperti biasa.
juga tak kamu beri harapan untuk sekedar membuatku menguatkan harapan.
semuanya kita sampaikan apa adanya.
aku pahami maksud dan inginmu.
kamu pun rebahkan pengertian akan rasa yg sampai saat ini masih tersemat di dada.
aku syukuri kembalimu dalam pelukku.
sungguh.. aku sangat bersyukur.
seperti terhenyak oleh jiwa yg kembali ke raga, itulah gambaran yg aku alami sekarang.
trimakasih Tuhan, trimakasih sayang.
begitu banyak yg tak terkatakan akhirnya aku katakan.
sepolos isi hatiku tentang apa yg sesungguhnya aku rasa, aku ungkap semuanya.
aku putuskan tuk katakan karna aku tak mau kebodohan mengalahkan kejujuran dan akhirnya membuatku kehilangan.
tak banyak harapku.. hanya ingin kamu tau dan tak salah mengartikanku..
tak menjanjikan sesuatu untuk kesekian kalinya karna suasana sudah tak seperti biasa.
juga tak kamu beri harapan untuk sekedar membuatku menguatkan harapan.
semuanya kita sampaikan apa adanya.
aku pahami maksud dan inginmu.
kamu pun rebahkan pengertian akan rasa yg sampai saat ini masih tersemat di dada.
aku syukuri kembalimu dalam pelukku.
sungguh.. aku sangat bersyukur.
seperti terhenyak oleh jiwa yg kembali ke raga, itulah gambaran yg aku alami sekarang.
trimakasih Tuhan, trimakasih sayang.
Senin, 14 Februari 2011
Unwell
Just like the lyric, I'm not crazy, I'm just a little unwell.
Semenjak kamu tak lagi disisi, aku seperti mati.
Tak henti aku mengais sisa- sisa serpihan hati yang terselip dalam setiap perhatian yang kamu beri.
Tak henti aku tangisi sesak yang selalu mencari tambatan penenang hati kala rindu merajai.
Mengenangmu
Kenapa bintang?
Kenapa ada petir?
Bintangnya cemberut, bani.
3 kalimat darimu. Meski kalimat itu sederhana dan terucap begitu saja melalui celah telpon, bagiku ini lebih dari kata- kata biasa karna saat mengucapkannya jelas kurasakan getar perhatianmu.
Tak Pernah Terbayangkan
Setiap bait syairnya melagukan suara hatiku akanmu.
Aku merasa sangat rapuh.
Aku merasa hilang arah.
Aku resah.
Sesak ini, gemuruh ini, hanya kamu yg mampu pahami.
Akhir Penantianku
aku dan kamu sama2 tau apa arti akhir penantian disini.
aku telah berjanji akan menjadikanmu akhir petualangan cintaku yg tadinya tak pernah kupikir akan memiliki tepi.
kamu, yg dengan tulus menjalani hari denganku, menepati menjadi yang terbaik, memberikan perhatian dan pengertian extra untuk kemauan dan sikapku yg jauh lebih sulit dari sulit dimengerti, kamulah akhir penantianku.
Trimakasih untuk kesempatan menapaki hari bersama dengan penuh rasa.
Minggu, 06 Februari 2011
Sixth Letter
Dear love...
Bahkan hari ini aku tak melihat mentari yg seharusnya menyapa minggu yg penuh arti untuk kita, sayang. Tak kulihat tanah disini kering sedikitpun karena langit tak henti- hentinya menitikkan bulirnya. Atau mungkin ini menandakan bahwa malam ini adalah pelabuhan terakhir hujan?
Bukankah seharusnya kita senang karna hujan termasuk dalam daftar yg kita sukai? Tapi kenapa rasanya hujan kali ini tak bersahabat lagi? Atau mungkin semua ini bukan tentang hujan? Ya.. mungkin ini tentang dentang jam yg tak hentinya menghentak palung jiwa. Menjalar ke arteri dan vena hingga jantung tak berirama lagi.
Bagaimana dengan esok? Alam tak lagi bisa diprediksi, sayang. Jadi? Apa yg harus kita persiapkan untuk menghadapi hari? Sesuaikan saja dengan panggilan alam. Tak perlu cemaskan karna apa yg kita cemaskan belum tentu terjadi. Yg perlu kita tau adalah apa yg ada di hati kita tak seperti alam yg tak tentu arahnya, tak seperti alam yg setiap saat bisa murka, tak seperti hujan yg tiba- tiba datang lalu menghilang.
Your idiot
Bahkan hari ini aku tak melihat mentari yg seharusnya menyapa minggu yg penuh arti untuk kita, sayang. Tak kulihat tanah disini kering sedikitpun karena langit tak henti- hentinya menitikkan bulirnya. Atau mungkin ini menandakan bahwa malam ini adalah pelabuhan terakhir hujan?
Bukankah seharusnya kita senang karna hujan termasuk dalam daftar yg kita sukai? Tapi kenapa rasanya hujan kali ini tak bersahabat lagi? Atau mungkin semua ini bukan tentang hujan? Ya.. mungkin ini tentang dentang jam yg tak hentinya menghentak palung jiwa. Menjalar ke arteri dan vena hingga jantung tak berirama lagi.
Bagaimana dengan esok? Alam tak lagi bisa diprediksi, sayang. Jadi? Apa yg harus kita persiapkan untuk menghadapi hari? Sesuaikan saja dengan panggilan alam. Tak perlu cemaskan karna apa yg kita cemaskan belum tentu terjadi. Yg perlu kita tau adalah apa yg ada di hati kita tak seperti alam yg tak tentu arahnya, tak seperti alam yg setiap saat bisa murka, tak seperti hujan yg tiba- tiba datang lalu menghilang.
Your idiot
Diary
Aku ingin sekali punya diary, dimana kisah- kisahku setiap harinya terekam disitu.
Aku ingin seperti yg lain, yg dengan leluasa menuangkan suka dukanya di sebuah album memori.
Diary...
Kenapa aku tak pernah mampu menulis diary?
Kenapa aku tak pernah punya diary yg kusimpan di laci almari?
Kenapa aku begitu takut mencipta satu buku atau satu halaman diary sekalipun?
Bukankah diary tempat yg sangat pas untuk menuangkan segala perasaan saat tak ada seorangpun yg mampu kita ajak untuk berbagi?
Bukankah diary adalah tempat yg lebih dari pas untuk menceritakan sebuah atau bahkan beribu rahasia hidup yg tak mungkin atau yg tak kita ingini seorangpun mengetahuinya?
Lalu kenapa tanganku lumpuh untuk menulis diary padahal aku sangat ingin bercerita tentang sesuatu yg rahasia?
Sebenarnya ada apa dengan diary?
Ahh mungkin lebih tepat dibalik pertanyaannya menjadi: sebenarnya ada apa dengan diriku?
Sebegitu banyakkah rahasia yg tak ingin kubagi kepada siapapun?
Sebegitu rahasiakah rahasiaku itu sehingga diarypun tak boleh tau?
Atau...
Sebegitu terpercaya dan berbahayanya kah diary itu untuk mereka yg ingin sekali tau tentang kerahasiaan yg aku simpan karna sumber informasi diary itu adalah aku sendiri?
***
Dear diary...
Ya, hanya itu yg mampu kutulis untuk diaryku.
Cukup 2 kata, Dear Diary...
Aku ingin seperti yg lain, yg dengan leluasa menuangkan suka dukanya di sebuah album memori.
Diary...
Kenapa aku tak pernah mampu menulis diary?
Kenapa aku tak pernah punya diary yg kusimpan di laci almari?
Kenapa aku begitu takut mencipta satu buku atau satu halaman diary sekalipun?
Bukankah diary tempat yg sangat pas untuk menuangkan segala perasaan saat tak ada seorangpun yg mampu kita ajak untuk berbagi?
Bukankah diary adalah tempat yg lebih dari pas untuk menceritakan sebuah atau bahkan beribu rahasia hidup yg tak mungkin atau yg tak kita ingini seorangpun mengetahuinya?
Lalu kenapa tanganku lumpuh untuk menulis diary padahal aku sangat ingin bercerita tentang sesuatu yg rahasia?
Sebenarnya ada apa dengan diary?
Ahh mungkin lebih tepat dibalik pertanyaannya menjadi: sebenarnya ada apa dengan diriku?
Sebegitu banyakkah rahasia yg tak ingin kubagi kepada siapapun?
Sebegitu rahasiakah rahasiaku itu sehingga diarypun tak boleh tau?
Atau...
Sebegitu terpercaya dan berbahayanya kah diary itu untuk mereka yg ingin sekali tau tentang kerahasiaan yg aku simpan karna sumber informasi diary itu adalah aku sendiri?
***
Dear diary...
Ya, hanya itu yg mampu kutulis untuk diaryku.
Cukup 2 kata, Dear Diary...
Kamis, 03 Februari 2011
Happy
Walaupun hari ini aku nggak kemana- mana, cukup duduk manis disini, rasanya hatiku loncat- loncat kesana- kemari. Kenapa? It’s you! Ya, semua karna kamu. Hariku yang mungkin buat orang lain terasa sangat membosankan, menjadi sangat mengasyikan. Dengan berbagai candamu yg khas, kamu selalu datang meramaikan kesunyian yg tak jarang menyelimutiku. Tak ada topik yg serius dalam candaanmu, semuanya sederhana, begitupun dengan tanggapanku, tapi entah knapa caramu membangunkan suasana sepi menjadi happy begitu kusukai.
Senang sekali rasanya. Aku merasa kamu telah kembali ke sisiku seperti hari- hari yg lalu. Bukan berarti akhir- akhir ini aku merasa ada yg beda. Mungkin ini perasaanku saja kalau kamu seperti ambil jarak dariku karna alasan tertentu. Kalaupun itu benar, aku lebih suka menyebutnya dengan ‘kamu dan aku punya kesibukan extra akhir- akhir ini’ jadi saat kita bertemu untuk melepas rindu, lelah lebih merajai diri, sehingga akupun tak sampai hati meminta untuk ditemani. Heheh. Tapi ya... dipikir- pikir tak ada bedanya juga, kalau akhirnya aku juga yg temenin kamu menyambut mimpi. Toh intinya sama saja kan? Saling menemani.
Tak banyak yg aku ingin bicarakan di hari bahagia ini. Bukan karna aku tak punya bahan omongan, aku cuma sudah tak mampu menggambarkan kegembiraan hatiku akan kembalinya dirimu. Senyum dan tawaku lebih dari cukup lah kalau dibanding dengan kata- kata ‘Makasih buat hari ini, sayang. Aku seneeeeng banget.’
Love love love love you!
Senang sekali rasanya. Aku merasa kamu telah kembali ke sisiku seperti hari- hari yg lalu. Bukan berarti akhir- akhir ini aku merasa ada yg beda. Mungkin ini perasaanku saja kalau kamu seperti ambil jarak dariku karna alasan tertentu. Kalaupun itu benar, aku lebih suka menyebutnya dengan ‘kamu dan aku punya kesibukan extra akhir- akhir ini’ jadi saat kita bertemu untuk melepas rindu, lelah lebih merajai diri, sehingga akupun tak sampai hati meminta untuk ditemani. Heheh. Tapi ya... dipikir- pikir tak ada bedanya juga, kalau akhirnya aku juga yg temenin kamu menyambut mimpi. Toh intinya sama saja kan? Saling menemani.
Tak banyak yg aku ingin bicarakan di hari bahagia ini. Bukan karna aku tak punya bahan omongan, aku cuma sudah tak mampu menggambarkan kegembiraan hatiku akan kembalinya dirimu. Senyum dan tawaku lebih dari cukup lah kalau dibanding dengan kata- kata ‘Makasih buat hari ini, sayang. Aku seneeeeng banget.’
Love love love love you!
Rabu, 02 Februari 2011
Tahun Klinci
Duar!!! Tor!!! Diar!!! Doorr!!!
Bersahut- sahutan kembang api dan petasan yg katamu bagai kilat mewarnai langit hitam sebagai kanvasnya. Meski disini tak ada suara petasan sedikitpun, namun aku turut merasakan kemeriahan datangnya tahun baru klinci besi ini denganmu melalui speaker kecil HPku ini. Terdengar jelas bagaimana riuhnya langit di kotamu di telingaku. Seakan tak mau kalah, kamu ikut ramaikan hatiku dengan protesmu akan datangnya esok pagi. Di saat hampir semua orang disana bergembira menyambut hari berangpao dan berkue, tak henti- hentinya kamu ngehiam (begitu kamu menyebutnya jika ada keluhan tentang sesuatu atau orang, yg kurang lebih artinya mengeluh atau mengatai)imlek 3 hari kedepan karena alasan A, B, dan C. Bukannya mendukung keluhmu, justru aku ketawa tak karuan. Terus terang aku suka ekspresimu tiap meributkan sesuatu. (peace)
Di tahun ini, tahun binatang favorit kita (klinci), sebersit keinginan terucap darimu, sayang. Kamu ingin kembang api petir itu menjadi tontonan kita berdua suatu saat nanti. Aku terdiam sejenak. Ada perasaan senang di dalam sini. Mungkin kamu tak tau kalau disini aku tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mantap. Tapi aku yakin kamu bisa merasakan riangnya hatiku.
Bagiku, keinginanmu tadi lebih dari kata- kata biasa. Aku memaknainya bahwa kamu masih ingin melewati hari- hari perayaan berkembang api selanjutnya bersamaku. Heheh.
Selamat taun klinci, sayang.
Bersahut- sahutan kembang api dan petasan yg katamu bagai kilat mewarnai langit hitam sebagai kanvasnya. Meski disini tak ada suara petasan sedikitpun, namun aku turut merasakan kemeriahan datangnya tahun baru klinci besi ini denganmu melalui speaker kecil HPku ini. Terdengar jelas bagaimana riuhnya langit di kotamu di telingaku. Seakan tak mau kalah, kamu ikut ramaikan hatiku dengan protesmu akan datangnya esok pagi. Di saat hampir semua orang disana bergembira menyambut hari berangpao dan berkue, tak henti- hentinya kamu ngehiam (begitu kamu menyebutnya jika ada keluhan tentang sesuatu atau orang, yg kurang lebih artinya mengeluh atau mengatai)imlek 3 hari kedepan karena alasan A, B, dan C. Bukannya mendukung keluhmu, justru aku ketawa tak karuan. Terus terang aku suka ekspresimu tiap meributkan sesuatu. (peace)
Di tahun ini, tahun binatang favorit kita (klinci), sebersit keinginan terucap darimu, sayang. Kamu ingin kembang api petir itu menjadi tontonan kita berdua suatu saat nanti. Aku terdiam sejenak. Ada perasaan senang di dalam sini. Mungkin kamu tak tau kalau disini aku tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mantap. Tapi aku yakin kamu bisa merasakan riangnya hatiku.
Bagiku, keinginanmu tadi lebih dari kata- kata biasa. Aku memaknainya bahwa kamu masih ingin melewati hari- hari perayaan berkembang api selanjutnya bersamaku. Heheh.
Selamat taun klinci, sayang.
Hidup yang Lucu vs Aku yang Blagu
hidup memang lucu. ahh atau mungkin aku yg lucu padahal hidup biasa- biasa saja?
aku tau betul akhirnya akan seperti apa, tapi aku tetap tak memupuskan mimpiku untuk bersamamu suatu saat nanti. bagaimana tidak? di pikiranku hanya kamu. hari- hariku juga hanya tersulut oleh semangat yg datang dari dirimu. semangat yg tak kudapat dari orang lain. semangat yg efeknya luar biasa, sekali tendang langsung tunggang langgang.
sampai sekarang pun aku begitu yakin bahwa hanya aku yg mampu mengerti kamu. hanya aku yg bisa memberikan ketulusan cinta seperti ini. entahlah... mungkin aku terlalu sombong telah menilai diriku sendiri dengan nilai A gemuk. tapi ya gimana lagi? PD tetep number 1 lah buatku. (gubrak)
bodoh ya? aku tak sanggup melepas tapi berlagak sok kuat. aku masih ingini kamu disisiku tapi berlagak bisa tanpamu.
well, aku tak mau pungkiri... cuma kamu yg kuingini hiasi hari- hari.
aku tau betul akhirnya akan seperti apa, tapi aku tetap tak memupuskan mimpiku untuk bersamamu suatu saat nanti. bagaimana tidak? di pikiranku hanya kamu. hari- hariku juga hanya tersulut oleh semangat yg datang dari dirimu. semangat yg tak kudapat dari orang lain. semangat yg efeknya luar biasa, sekali tendang langsung tunggang langgang.
sampai sekarang pun aku begitu yakin bahwa hanya aku yg mampu mengerti kamu. hanya aku yg bisa memberikan ketulusan cinta seperti ini. entahlah... mungkin aku terlalu sombong telah menilai diriku sendiri dengan nilai A gemuk. tapi ya gimana lagi? PD tetep number 1 lah buatku. (gubrak)
bodoh ya? aku tak sanggup melepas tapi berlagak sok kuat. aku masih ingini kamu disisiku tapi berlagak bisa tanpamu.
well, aku tak mau pungkiri... cuma kamu yg kuingini hiasi hari- hari.
Langganan:
Postingan (Atom)