Aku ingin sekali punya diary, dimana kisah- kisahku setiap harinya terekam disitu.
Aku ingin seperti yg lain, yg dengan leluasa menuangkan suka dukanya di sebuah album memori.
Diary...
Kenapa aku tak pernah mampu menulis diary?
Kenapa aku tak pernah punya diary yg kusimpan di laci almari?
Kenapa aku begitu takut mencipta satu buku atau satu halaman diary sekalipun?
Bukankah diary tempat yg sangat pas untuk menuangkan segala perasaan saat tak ada seorangpun yg mampu kita ajak untuk berbagi?
Bukankah diary adalah tempat yg lebih dari pas untuk menceritakan sebuah atau bahkan beribu rahasia hidup yg tak mungkin atau yg tak kita ingini seorangpun mengetahuinya?
Lalu kenapa tanganku lumpuh untuk menulis diary padahal aku sangat ingin bercerita tentang sesuatu yg rahasia?
Sebenarnya ada apa dengan diary?
Ahh mungkin lebih tepat dibalik pertanyaannya menjadi: sebenarnya ada apa dengan diriku?
Sebegitu banyakkah rahasia yg tak ingin kubagi kepada siapapun?
Sebegitu rahasiakah rahasiaku itu sehingga diarypun tak boleh tau?
Atau...
Sebegitu terpercaya dan berbahayanya kah diary itu untuk mereka yg ingin sekali tau tentang kerahasiaan yg aku simpan karna sumber informasi diary itu adalah aku sendiri?
***
Dear diary...
Ya, hanya itu yg mampu kutulis untuk diaryku.
Cukup 2 kata, Dear Diary...
Dear diary.. :)
BalasHapusaku juga punya diary hidup.. waLopun aku Lebih suka sebut itu sebagai tong sampah.. wkwk..
Bodoh! wkwkwk
BalasHapussudah saatnya tong sampah anda di recycle