Dear kasihku yg tak pernah lelah mengerti aku...
kita sama- sama tau rasanya disakiti dan menyakiti, sayang...
bagi yg tersakiti... pedih... sampe ke ulu hati sang taji menancap nyeri.
Bak mati denyut pembulu, sembilunya menyulut sekujur ulu.
kedap... sesak memenjara isak yg coba menyeruak
menampu anak hilir yg sekarat mencari hulu untuk mendarat...
bagaimana dengan yg menyakiti?
kecut... meski hasrat tersurat, percayalah masam tak kuasa teredam.
ada perih tak terkais terlukis tipis di pelipis.
ada senyum simpul tumpul berjelaga di atas ketegangan yg mendadak kusut
meramu racun sebagai penawar kebahagiaan yg sejatinya tidak sejati...
sayang... sekuat- kuatnya hasrat dan luka bagi yg menyakiti dan yg tersakiti,
buah deritanya tak pernah jauh berbeda.
...dan aku berikrar tak kan pernah menjadi subject penderitaan itu.
bukan soal tega- menegalah sebab kelumpuhan untuk menyuarakan hatiku...
saat kekanakan merajai emosi, terlintas bagaimana membalas...
saat kedewasaan merebut paksa singgasana kekanakan, terlintas bagaimana menyikapi...
saat cinta merenggut semuanya tanpa tersisa, terkutuk kekanakan dan kedewasaan karna di dalamnya masih bertahta kepicikan yg terbutakan kesakitan.
saat sayang hadir di tengah cinta yg sempat meradang, terbisik hati merangkul kembali, tetap disini, tersemat di sisi.
...dan... aku tak keberatan dikuasai cinta... tak keberatan mengembangkan sayang...
karna aku tau, ada sebongkah cinta agung tersimpan untukku di dalam kalbumu yg terselubung kidung.
kasihku... bagaimana kamu mencintaiku... aku sangat nikmati itu...
jangan pernah tanyakan bagaimana rasanya jadi aku...
...karna jawabku tak akan jauh dari yg kamu ucapkan saat kulontarkan pertanyaan yg sama kepadamu.
syukurku kumiliki kekasih sepertimu, sayang...
the one who keeps the love for you in every single day.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar