Ketika kita mendapatkan apa yg kita cari selama ini, yg bisa menerima semua yg ada dalam diri kita tanpa terkecuali, namun keadaan tidak menerimanya.
***
Ini kisah klise yg banyak orang alami, yg dulu pernah kusepelekan, yg aku pikir tak pernah akan mendatangiku, tak pernah mengganggu pikirku, dan mengusik jiwaku.
Tak ada yg lebih indah dari cinta yg terbalas, bukan? Perasaan yg mampu mengaduk pikiran dan hati saat kita menambatkan kasih kepada seseorang yg kita harap juga memiliki hasrat demikian kepada kita. Ketika cinta terbalas, dan komitmen untuk memiliki ikatanpun terucap, tak ada yg bisa mengalahkan rasa bahagia saat berbagi waktu bersamanya, merangkai mimpi berdua, dan membayangkan sesuatu yg pasti diharapkan oleh orang yg saling jatuh cinta, yaitu PERNIKAHAN. Membayangkan betapa mungil rumah yg akan kita bangun bersama nantinya, betapa ramai keluarga kita lengkap dengan si buah hati.. aaahhhh... sungguh indah.
Untuk sebagian orang mungkin cerita cinta mereka bisa berjalan mulus seperti cerita di atas, tapi bagiku dan kamu, mimpi kita untuk bermahligai seperti di atas harus kandas di tengah jalan. Bukan karena cinta tak terbalas, tapi karna memang sudah seperti inilah takdir untuk cinta- cinta seperti kita digariskan. Bukan pernikahan yang akan kita jelang, tapi PERPISAHAN. Huuuuuuhhhh... miris rasanya hati ini, sayang.
Bagi yg melihat atau mendengar mungkin hanya akan berkata ‘halah cerita basi!’. Dulu juga begitu pikirku tiap mendengar cerita cinta yg berakhir di tengah jalan entah itu karna faktor keluarga, agama, ras, kewarganegaraan, umur, perjodohan, dan sebagainya. Dan mungkin ini karma bagiku, karna aku sekarang sekarat merasakan kisah yg membabi buta ini, dimana aku dan kamu sama- sama keranjingan oleh rasa yg dinamai CINTA.
Jatuh cinta memang susah menghampiriku. Apalagi aku orang yg menutup hati, keras, angkuh, dan gengsian. Jangankan peduli dengan orang yg mendekatiku, melihatpun tidak. Mengenalmu, ada yg lain di hatiku, seakan membuka jalan untuk kamu singgahi. Begitu mudahnya kamu menarik perhatianku, dan dengan mudah pula kuikuti kata hatiku untuk terus mencari tau semua tentangmu. Sampai saat aku mulai merindukan kehadiranmu dalam hari- hariku, aku mulai kehilangan jika tak ada kabar darimu, aku mulai kelabakan mengatur konsentrasi jika tak ada kamu yg menyapa hariku.
Aku tak tahan. Aku mulai norak. Aku putar otak, memikirkan beribu cara, setidaknya untuk sekedar tau tentang hari- harimu, hingga akhirnya kamu bungkam aku dengan pertanyaan yg membuat jantungku berhenti seketika. Kamu menanyakan perasaanku, sesaat aku membisu, aku serba salah. Ingin sekali aku bilang aku sayang kamu, tapi aku takut itu justru membuatmu jauh dariku karna ternyata tak ada perasaan yg sama dalam hatimu. Aku bingung. Lantas terpikir olehku, bagaimana kalau aku bilang perasaanku biasa aja ke kamu? Dan muncul pertanyaan tambahan seketika itu juga, bagaimana kalau ternyata kamu menyimpan rasa ke aku? Serba salah deh pokoknya. Akhirnya, aku putuskan untuk jujur. Mengagetkan memang. Aku tak menyangka bahwa kamu ternyata mengharapkan jawaban yg tadinya aku ragukan untuk diucapkan. Akhirnya, aku dan kamu menautkan hati, menyatakan komitmen berpacaran, dimana hatiku telah kututup selain untukmu, begitu juga dengan punyamu.
Hari- hariku terasa berbeda. Aku merasa segar ketika membuka mata di pagi hari, senang sekali pagi itu juga kita saling sapa dengan kata- kata manis. Siang yang panas tak pernah terasa menyengat lagi, malam yg dingin menjadi hangat olehmu, begitu seterusnya kulalui hari hingga kamu menjadi candu bagiku.
Semangat darimu selalu membangkitkanku, meluluhkan rasa malas dan pesimis atau kalah sebelum berjuang. Lelahkupun tak berarti lagi jika lembut suaramu mengisi hati. Kamu, yg selalu mengerti aku, yg tak pernah lelah mengajariku untuk terus maju, adalah satu- satunya yg kuingini dampingiku sampai tutup usiaku. Perasaan nyaman ini hanya kamulah yg mampu berikan.
Hari silih berganti, ketakutan mulai merajai. Sayang ini tumbuh begitu cepat. Kuntum cinta yg kuncup, sekarang telah bermekaran, semi oleh sejuknya hembusan kasih yg kamu berikan. Semakin tak kuasa ku jauh darimu, semakin tak bisa ku hadapi hari tanpa belaimu.
Namun... cinta inilah yg akhirnya menampar kita dari mimpi, sayang. Tertatih- tatih kita menatap kenyataan bahwa sebenarnya tak dapat aku sandingkan cintaku dengan punyamu selamanya karna cinta bukan berarti harus memiliki hanyalah omong kosong atau balada mereka yg tengah putus asa karena lelah mengejar cinta yg tak terbalas. Egoku yg tadinya hanya ingini kamu untukku seorang akhirnya pudar. Apalah artinya aku mendapatkan cintamu tapi tak mampu ku penuhi mimpimu untuk merajut bahagia bersama dengan sebuah kata KELUARGA? Cinta memang buta, sayang, tapi itu hanya cinta yg egois saja, yg tak pernah mengerti kebahagiaan pasangannya. Ketika datang kacamata yg membuka tabir kebutaan yg tadinya kekal menyelimuti nurani kita, telah muncul kesepakatan untuk mengakhiri segalanya dengan kepercayaan bahwa akan datang seseorang yg memang digariskan untukku yg mampu wujudkan mimpimu akanku, dan seseorang lagi muncul untuk wujudkan mimpiku akanmu. Kita percaya mimpi itu akan terwujud melalui tangan Tuhan yg dikirim pada kedua orang terpilih itu. Susah memang membayangkanmu bersamanya, apalagi membayangkan kalian mewujudkan mimpi yg kita bangun bersama. Sesak, cemburu, dan semua rasa tak enak tiba- tiba berkecamuk menjadi satu. Tapi tak apalah. Aku menginginkanmu bahagia. Jika memang tak bisa kamu raih bahagia itu jika tetap bersamaku, tak akan mengapa jika dia yg wujudkan bahagiamu, toh memang bahagialah harapanku untuk dirimu. Meski begitu, sampai detik ini aku tak pernah berniat mengurangi sedikitpun rasa sayangku. Tetap, kamulah satu- satunya yg ada di hati, yg slalu aku kasihi.
Waktu yg tersisa kini adalah waktuku mengumpulkan segala kekuatan dan kerelaan untuk melepasmu, sayang. Sambutlah udara segar yg bebaskanmu dari sesak yg biasa menghampirimu saat bersamaku. Aku tak akan mengingat hakku untuk cemburu lagi, untuk perhatianku yg kadang bersifat memaksa, dan untuk tuntutan tau akan semua cerita harimu. temukanlah kebahagian disana bersama orang- orang terkasih, sahabat, keluarga, dan cinta tentunya.
Bagaimana denganku? Aku tak pernah ingin mengecewakanmu. Jika alasan kita untuk saling melepas adalah untuk berbahagia dengan seseorang yg ditakdirkan untuk mewujudkan mimpi kita, aku berjanji akan penuhi itu. Pengorbanan perasaan yg pantas untuk diperjuangkan ini, tak hanya akan ku anggap janji semata, tapi akan ku penuhi. Tak mengapa jika untuk itu aku berpeluh luka, tak mengapa jika untuk melepasmu ku meratap setiap kusapa mentari pagi penanda hari telah berganti. Tuhan tak akan tinggal diam, sayang. Cepat atau lambat akan Dia kirim orang- orang terpilih itu untuk kita. Percayalah, Dia juga akan menghapus cinta kita, memenuhi dengan cerita baru yg tak kalah dahsyat dengan yg kita punya, sehingga tak kan sempat kita menoleh ke belakang karna yg di depan jauh lebih indah dan menjanjikan. Tak perlu bersusah payah ku coba hapus hadirku di hidupmu, tak perlu juga kupaksa kamu lupakanku, karna aku percaya Tuhan dan dia yg akan melakukannya. Jadi, biarlah aku mengarus menikmati rasaku dari waktu ke waktu. Biarlah ku hidup sebagai pencinta sampai saat pengakhiran kembara cintaku tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar