Aku terlalu sibuk hanya tuk sekedar menahan bayangmu.
Malam kupercepat seakan langit tak menghembuskan udara tuk menunjang eksistensimu.
Pada sepertiga malam kutersadar bahwa aku tengah merindumu.
Sepenggal sesal kala kumendongak dan mendapati kau sirna bersama bintang agungmu.
Aurora, betapa kuratapi tiap detik waktu tempuh perjalanan sang bintang pijar.
Kunikmati sembilu hingga cemporetnya menembus tirai bambu kamarku berharap silaunya segera tumpul berganti dengan ronamu yg berbinar.
Dan setelah gelisahku, aku melihatmu lagi.
Sejenak gelisahku terbang bersama bayu meninggalkanmu mengisi hati.
21 Maret 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar